Beranda ARTIKEL BERITA UISNENO MNANU’ MA UISNEONPALA’

UISNENO MNANU’ MA UISNEONPALA’

0
“DEWA” ORANG “DAWAN” DI TIMOR-INDONESIA
Sejak jaman dahulu kala, ungkapan yang dimiliki Atôênlaban atau Atôênmeto’ untuk wujud atau pribadi
Tertinggi yang tidak bisa diterangkan atau digambarkan, adalah kata-kata majemuk seperti: Apinat Aklahat (Yang Bernyala Yang Membara), Afinit Anêsêt (Yang Melebihi Yang Melampaui), Ahaot Afatis (Yang Mengenyangkan Yang Memelihara), Amo’et Apakaet (Yang Membuat Yang Mencipta), Anaet Apôpêt (Yang Menyuburkan Yang Menyiram), Akubelan Akuasat (Yang Memerintah Yang Berkuasa). Ungkapan-ungkapan ini, ditujukan kepada “suatu” pribadi “abstrak” yang tidak kelihatan, yang tidak “definitif”, tetapi memiliki pengaruh luar biasa untuk kehidupan manusia, dalam urusan-urusan berhubungan dengan realitas rohani: Upacara-upacara pemujaan di tempat-tempat sakral. Tutur atau  doa adat mereka, selalu dimulai dengan kata-kata: In Es atau Dia Yang. Seperti: “In Es Apinat ma Aklahat.” Entahkah Siapa Dia Yang, mereka tidak bisa kongkritkan pribadinya, tetapi secara rohani, mereka merasakan Kehadiran-Nya: Yang Bernyala dan Yang Membara. Artinya: Dia Pemberi Terang Kehidupan. Sedangkan nama-nama atau atribut seperti Tuhan atau Allah, tidak dikenal oleh masyarakat purba Atôênlaban di Timor-Indonesia, pemakai bahasa Laban (Dawan).
Ketika para misionaris Barat tiba di wilayah ini, mereka mencoba mengalihkan kata Tuhan atau Allah itu ke dalam bahasa setempat dengan meminjam kata padanan, Usi’ atau Raja (penguasa manusia), sambil menambahkan kata: Neno (langit, waktu). Maka jadilah ungkapan untuk sebutan bagi Tuhan atau Allah itu: Uisneno. Artinya, Raja Langit, Penguasa Waktu. Dan ungkapan ini hanya digunakan untuk Tuhan atau Allah. Maka Allah Maha Tinggi disebut: UISNENO MNANU’. Sedangkan untuk manusia istimewa yang perlu dihargai tiada taranya, yang hampir menyamai Tuhan, adalah ayah dan ibu yang melahirkan manusia. Dalam tanda kutip, “bisa membuat manusia”. Muncullah ungkapan: UISNEONPALA’. Seterusnya, tidak ada lagi benda-benda lain di bumi ini yang bisa disejajarkan dengan kedua Usi’ ini, bahkan dewa-dewa sekali pun! Apa lagi kata “dewa”, tidak ada dalam kosa kata Uablaban. Sehingga usaha dari beberapa misionaris dan para peneliti Barat yang mencoba untuk menyebut dewa-dewa lain seperti: Uismanas (dewa Matahari), Uisfunan (dewi Bulan), Uis’afu – Uisnaijan (dewa Bumi), Uis’anin (dewa Angin), Uis’ulan (dewa Hujan), Uis’oe (dewa Air), dan sebagainya, menurut nilai rasa bahasa, Uablaban atau Uabmeto’, menurut saya, semuanya itu tidak terlalu tepat. Karena dalam Uablaban sendiri, sudah ada ungkapan-ungkapan khas yang sangat indah dan puitis untuk benda-benda alam yang sakral atau kepemilikan manusia yang tidak tergugat. Beberapa dari sebutan-sebutan “dewa” alam atau manusia yang di-“dewa”-kan itu, saya cantumkan di bawah ini:
Ainneno untuk angin taufan (dewa angin)
Alikin Ape’an untuk leluhur (dewa kehidupan)
Bineon’amasat untuk wanita jelita (dewi kecantikan)
Funneno untuk bulan yang indah (dewi bulan)
Fautle’o untuk batu suci (dewa batu)
Fautneno untuk gunung yang menjulang (dewa gunung)
Kol’anin untuk burung pemangsa (dewa perusak)
Kolneno untuk raja burung (dewa burung)
Man’a’lili’ untuk mata hari yang membara (dewa mata hari)
Man’a’kiti’ untuk terik mata hari (dewa panas)
Naijatuaf untuk penguasa tanah (dewa dunia)
Neontuaf untuk waktu yang berjalan (dewa waktu)
Oelê’ô untuk sumber air keramat (dewa air)
Pah’atônê untuk sekalian laki-laki (dewa kegantengan)
Pahbife untuk sekalian perempuan (dewi kesuburan)
Pahkauna’ untuk sekalian ular (dewa ular)
Pahmu’it untuk sekalian binatang (dewa binatang)
Pahnifu untuk wilayah atau bunda bumi (dewi dunia)
Taismanuan untuk samudra raya (dewi laut)
Ulneno untuk air dari langit (dewa hujan)
Sampai dengan artikel sederhana ini saya tulis, saya tidak pernah menggunakan kata-kata seperti, Uis’afu atau Uis’oe. Karena saya rasa, nuansa dan makna religiusnya, menggelikan. Saya lebih memilih menggunakan: Pahnifu dan Oelê’ô. Lebih tepat, lebih puitis dan lebih kultur-Labanis. Bisa juga dipakai ungkapan, Us yang berasal dari kata dasar Usuf atau Pusar, yang merujuk pada pengertian centrum atau pusat: Tolas (Rumah Induk Marga). Misalnya nama beberapa marga yang sudah sangat lama dikenal di wilayah Laban: Usbana’, Usfinit, Usfunan, Usfomênê’, Uskauna’, Uspupu, Usfal, Usta’ôlê, Us’ôlên, Us’abatan, Uskalili, dan sebagainya. Tetapi ungkapan “Us” terakhir ini, telah mendarah daging digunakan untuk nama marga. Maka tetap janggal juga bila harus dipakai sebagai padanan kata “dewa”. ***
Kuluhun, Dili, Timor-Leste,
13 April 2012   
Oleh Prisco Virgo 

KOMENTAR ANDA

0 komentar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini