Beranda ARTIKEL BERITA Uis Neno dan Uis Pah Dalam Kepercayaan Atoin Meto

Uis Neno dan Uis Pah Dalam Kepercayaan Atoin Meto

1
Dalam kehidupan masyarakat Dawan,
terdapat mitos tentang Tuhan, tentang Sang Pencipta, atau tentang Yang Suci,
yang melembaga dalam konsep Uis Neno dan Uis Pah. Uis Neno
adalah dewa langit sedangkan Uis Pah adalah dewa bumi.

Matahari adalah
representasi Uis Neno, sedangkan bumi adalah representasi dari Uis
Pah.
Masyarakat Dawan selalu berusaha menciptakan hubungan yang harmonis
dengan kedua dewa tersebut, karena keduanya sangat menentukan keberlangsungan
hidup masyarakat Dawan, terutama terkait dengan kegiatan pertanian.
Untuk menjamin kesuburan tanah,
mendatangkan hujan, menjauhkan hama, dan menghasilkan panen berlimpah,
misalnya, masyarakat Dawan melaksanakan berbagai macam ritual dan seremoni adat yang pada intinya untuk meminta berkah dan pertolongan dari kedua
kekuatan kosmos tersebut. Masyarakat Dawan juga menganggap bahwa setiap bencana
yang menimpa mereka merupakan buah dari hubungan yang kurang harmonis dengan
Tuhannya. Misalnya kekeringan yang berkepanjangan. Bagi masyarakat Dawan,
kekeringan di musim kemarau merupakan akibat dari kemurkaan Uis Neno
lantaran manusia kurang mampu menjaga hubungan harmonis dengannya. Begitu juga
pada kasus gagal panen, yang diyakini masyarakat Dawan sebagai petanda bahwa Uis
Pah
tidak lagi memberikan berkah kesuburan tanah sehingga setiap tanaman
yang ditancapkan di bumi tidak akan berbuah hasil (Tuam, 2008;
Kieft dan Duan,
).
Meskipun mayoritas masyarakat Dawan saat ini sudah memeluk agama Kristiani sebagai sebuah agama
monoteis modern dan universal,
mereka masih
tetap meng
hayati dan memraktekkan kepercayaan
lokal k
ehidupan
sehari-harinya. Hal i
ni cukup beralasan, karena sebelum kedatangan dan kehadiran agama Kristen di Pulau Timor, masyarakat Dawan sudah memiliki kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhurnya (Tuam, 2008).

Konsep Uis Neno dan Uis Pah

Meskipun masyarakat Dawan mengenal banyak dewa dalam sistem
religi mereka, namun hanya ada dua dewa yang dianggap sebagai dewa tertinggi,
yaitu Uis Neno dan Uis Pah. Berikut ini akan dijelaskan secara
berurutan tentang konsep kedua dewa tersebut sebagaimana dipahami oleh
masyarakat Dawan.

1. Uis Neno  
Uis Neno merupakan dewa
tertinggi dalam sistem religi masyarakat Dawan. Secara harfiah uis neno berarti
‘tuan hari‘, sebuah sebutan yang dirujukkan pada keberadaan matahari. Karena
matahari merupakan benda langit yang dianggap paling besar pengaruhnya dalam
kosmos, maka orang Dawan menempatkannya sebagai perwujudan dewa tertinggi—atau
dengan perkataan lain disebut sebagai ‘Raja Langit‘. Dalam perbendaharaan
bahasa Dawan, istilah uis neno sering dipadankan dengan istilah
manas,
yang juga berarti matahari. Manas adalah pusat dan penentu
seluruh kehidupan. Manusia akan memperoleh kehidupan ketika Manas terbit.
Sebaliknya, apabila Manas tidak terbit maka tidak ada kehidupan—yang
juga berarti tidak mungkin ada manusia (Sawu, 2004: 101).
Karena fungsi yang diperankan Uis Neno atau Manas
sangat penting dalam kehidupan dunia, maka tidak berlebihan ketika masyarakat
Dawan menggambarkan Uis Neno sebagai dewa yang memiliki semua sifat
istimewa. Dalam catatan Sawu (2004: 105-109), ada beberapa atribut utama yang
sengaja disandangkan oleh orang Dawan kepada Uis Neno sebagai pengakuan
bahwa kekuasaannya tak terbatas. Atribut-atribut itu antara lain:
Pertama, Apinat ma Aklahat. Secara harfiah apinat berarti
menyala, bersinar atau bercahaya. Sedangkan aklahat merupakan
peningkatan dari apinat, artinya yang membara dan menghanguskan. Secara
lebih detail, orang Dawan menggambarkan Uis Neno sebagai yang menyala,
bercahaya, menyinari, menghangatkan, menyenangkan, namun juga membara dan
menghanguskan yang dapat menyebabkan kebakaran dan kematian. Dalam konteks
kehidupan di dunia, masyarakat Dawan meyakini bahwa kekeringan dan banjir
disebabkan oleh kekuasaan Uis Neno ini.
Kedua, Amoet ma Apakaet. Amoet berarti pencipta atau
kekuatan yang menciptakan segala sesuatu. Sedangkan apakaet merupakan
ungkapan yang menggambarkan kemampuan memahat, melukis, dan menenun. Atribut
tersebut biasa digunakan untuk menggambarkan kemampuan Uis Neno sebagai
pencipta semesta alam atau seniman terbesar di dunia.
Ketiga, Alikin ma Apean. Atribut ini berarti yang
membuka jalan dan mengantar ke dalam kehidupan. Dalam konteks ini, orang Dawan
meyakini fungsi Uis Neno sebagai orang tua yang memelihara benih
kehidupan hingga benih tersebut siap dilahirkan ke dunia. Dalam kehidupan
sehari-hari, kata-kata tersebut sering digunakan pada burung-burung dan
ayam-ayam betina yang mengerami telur-telurnya dan membantu memberikan jalan
dengan membuat sebuah lubang kecil pada telurnya agar anaknya dapat keluar
dengan leluasa.
Keempat, Afinit ma Anesit. Afinit berarti lebih
panjang dan lebih tinggi. Sedangkan anesit juga memiliki pengertian
‘lebih‘, yaitu lebih banyak dan lebih besar. Keduanya mempunyai pengertian
mengatasi dan melampaui segala sesuatu. Uis Neno sebagai dewa tertinggi
dalam sistem kepercayaan orang Dawan memiliki kekuatan yang tidak ada satupun
makhluk yang sanggup menyamainya. Ia berada di atas segala-galanya.
Kelima, Ahaot ma Afatis. Atribut ini berfungsi untuk
mengungkapkan fungsi kebapakan dan keibuan Uis Neno. Ahaot berarti dia
yang memberi makan dan minum secara jasmani; yang bertanggung jawab untuk
pemenuhan kebutuhan jasmani manusia. Sedangkan afatis merujuk pada
intensivitas kepedulian Uis Neno kepada manusia, yang bukan hanya
memperhatikan hal jasmani, tetapi juga hal rohani yang merupakan salah satu
bagian penting dari manusia.
Keenam, Aneot ma Amafot. Atribut ini berarti sebagai
pelindung, pemberi arah, pemberi rahmat dan berkah. Uis Neno sebagai
dewa tertinggi dapat memberikan atau menahan sinarnya terhadap manusia, yang
berarti dapat membawa berkah dan kehidupan, kutukan, kematian, dan kegelapan.
Bagi orang Dawan, atribut ini juga menjelaskan Uis Neno sebagai dewa
tertinggi yang memberikan kepada manusia kebaikan dan kejahatan, terang dan
gelap, kehidupan dan kematian.
2. Uis Pah
Selain Tuhan Langit, masyarakat Dawan
juga mengakui adanya Tuhan Bumi
atau yang disebut sebagai Uis Pah. Bersama Uis Neno, Uis Pah diyakini membentuk kekuatan ilahi, namun Uis
Neno
tetap
dianggap lebih superior. Keduanya memang berbeda dan
mempunyai eksistensinya masing-masing
,
namun
satu sama lain
tidak dapat dipisahkan.
Dalam sistem keyakinan orang Dawan, Uis Pah dianggap sebagai pembawa
ketakberuntungan dan malapetaka bagi manusia.
Oleh karena itu manusia harus
berusaha mengambil hati
nya dengan menyelenggarakan
upacara-upacara tertentu. Uis Pah juga diyakini sebagai dewa yang merajai Pah Nitu (roh atau dunia orang mati) yang tinggal di hutan, batu-batu karang, mata air, pohon-pohon
besar
, dan gunung-gunung (Taum, 2008).
Masyarakat Dawan juga percaya pada Pah Nitu yaitu arwah-arwah orang yang
sudah meninggal dunia. Arwah-arwah ini memegang peranan penting dalam kehidupan
manusia, karena mereka seringkali dijadikan
sebagai penghubung atau perantara antara manusia dengan Uis
Neno
dan Uis Pah. Setiap
ritual yang dilakukan orang Dawan kepada Uis Neno dan Uis Pah
selalu melibatkan Pah Nitu karena tanpa keterlibatannya ritual yang
diselenggarakan diyakini tidak sepenuhnya diterima oleh Uis Neno dan Uis
Pah
(Taum, 2008;
Kieft dan Duan,–).

C. Pengaruh Sosial

Sebagaimana
telah disebut di atas, bahwa kelompok suku tradisional seperti masyarakat Dawan
masih memraktekkan ritual-ritual tertentu dalam rangka membangun hubungan
harmonis dengan Sang Pencipta.
Dalam kehidupan
masyarakat tradisional, praktik-praktik
ritual
lazim dilaksanakan dengan cara memberikan
persembahan atau sesajian, mulai dari bentuk-bentuk sederhana seperti
persembahan buah-buahan
dan hasil-hasil pertanian
sampai  pada bentuk persembahan yang lebih kompleks
yang
diselenggarakan dengan prosesi rumit
dan
hanya berlangsung di
tempat-tempat suci
(Dhavamony, 1995: 168).
Di
bawah ini akan dibahas ritual-ritual tertentu yang dipraktekkan oleh masyarakat
Dawan sebagai konsekuensi dari keyakinan mereka terhadap eksistensi dewa-dewa
yang berkuasa atas kehidupan mereka. Masyarakat Dawan sebenarnya memraktekkan
banyak ritual adat, namun dalam konteks pemujaan terhadap dewa-dewa tersebut,
di sini hanya akan dibahas dua ritual saja yang menurut penulis memiliki
korelasi langsung dengan kerangka kepercayaan masyarakat Dawan terhadap dewa
tertinggi mereka, yaitu Uis Neno dan Uis Pah. Ritual-ritual yang
dimaksud adalah ritual Hamis Batar Hatama Manaik dan ritual Fua Pah.
 

 —————————————-melayuonline.com———————————————–

KOMENTAR ANDA

0 komentar

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini