Beranda ARTIKEL BERITA Tips Menghadapi Wartawan “nakal”

Tips Menghadapi Wartawan “nakal”

0

Ups…judulnya agak gimana gitu.

Percaya saja, sudah pasti ini bukan untuk memojokkan profesi tertentu (wartawan).
Ini hanyalah coretan saya tentang tips / resep bagi para pembaca matatimor.com.
Dengan adanya tips ini paling tidak, matatimor turut menjalankan salah satu fungsi pers sesuai amanat UU no 40 Tentang Kode Etik Pers, yaitu Fungsi Edukasi.

Tidak sedikit orang apalagi itu adalah oknum [pejabat] misalnya, yang ketika bertemu dengan wartawan, akan selalu menghindar dengan alasan masih sibuk.
Sibuk disini bisa kita duga kalau ternyata tidak ada urusan luapunr tetap pura-pura dibuat sibuk hanya agar tidak mau bertemu, atau tidak mau memberikan konfirmasi kepada wartawan tentang permasalahan tertentu.
..itu ada udang di balik tepung…he he he (udang goreng tepung kali ye)

yahhhh…saya mau tulis apa ini?. bukankah kita bicara tentang tips menghadapi wartawan “nakal”? kok ?
ahahahahaha

sudah begini saja.

Intinya bahwa saat dipercayakan untuk menjabat dan kita telah menjalankan tugas itu dengan penuh tanggung jawab dan sesuai dengan aturan yang berlaku, maka tak perlu resah dan gelisah dengan kehadiran para pencari pemburu warta berita.
Jangan takut menghadapi orang lain singkatnya. Kalaupun salah, kita perlu berbesar hati untuk siap mempertanggungjawabkan apa yang telah menjadi kesalahan kita. begitu ko???

Ingat, yang suka basilih dengan wartawan itu diibaratkan dengan tikus. Binatang kecil ini kalau ketahuan mencuri di lemari makan, pasti sembunyi dan tak berkutik.

Persoalanya adalah, karena saking profesi wartawan begitu ditakuti, ada oknum yang turut memanfaatkan celah ini.  Oknum-okmun itu kita sebut saja wartawan abal-abal.
Tahukan Maksud dari abal-abal itu?, wartawan yang hanya bermodal ID Card palsu, tidak memiliki media, tetapi main catut media-media besar bahwa dia dari media ini, media itu, menggunakan Id Card untuk melakukan kejahatan seperti pemerasan, intimidasi dan lain-lain sebagainya.

Oke….supaya tidak cepat tertipu,
bapak ibu harus mengecek dulu ID Cardnya, lalu cari tahu apakah selama ini medianya (baik itu online, cetak, audio dan visual) beroperasi atau? wartawan “tembak mulut” orang kupang bilang! alias omong doang tapi tak punya media….!

Sederhananya kita bangun komunikasi yang baik. Komunikasi yang baik itu membutuhkan kemampuan bahasa yang mantap. dengan demikian, tak akan terjadi hal-hal yang diluar dari pada kewajaran.

Mari kita saling menghargai.

nah tipsnya mana?>>

ah jawab sendiri…saya bingung!

“Kalau bapak wartawan, maka bapak dari media (koran/radio/majalah/media online) mana? boleh lihat kartu pers bapak? (usahakan pertanyaanyapun tidak sampai menyinggung perasaan orang lain).”


begitu kira-kira pertanyaan sederhana untuk mencari tahu keaslian seorang wartawan (abal-abal)

ingat, orang kalau merasa dirinya sudah tinggi, ia tak pernah mau menganggap orang lain. Sekalipun yang membedakan hanyalah seragam yang digunakannya…….mungkingkah? toh saat kita mati pun, semua yang kita lakukan di dunia ini harus kita pertanggungjawabkan di Hadapan Yang Maha Kuasa. Amin?

Terkait dengan tindakan yang menimpa salah satu wartawan beberapa waktu lalu di polres Kupang yang mana pelakunya adalah oknum berseragam, sayapun turut menyayangkan peristiwa tersebut.
semoga bisa cepat mendapatkan jalan keluar.

Tuh kan? tulisannya amburadul?

Stop Kekerasan terhadap Jurnalis!

Mari kita bergandengan tangan, bersatu padu demi Indonesia, NKRI yang kuat kokoh dan tetap UTUH..

Beta Indonesia, NKRI HARGA MATI!

KOMENTAR ANDA

0 komentar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini