Beranda KEBUDAYAAN SIFON ( Sunat lalu…) Tradisi Atoin Meto

SIFON ( Sunat lalu…) Tradisi Atoin Meto

0

Sifon adalah sebuah tradisi lelaki di daerah Timor Barat terutama Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, dan Belu merupakan suatu tradisi atau mitos agar lelaki menjadi perkasa dengan meninggalkan luka bagi perempuan termasuk penyakit menular seksual.

Pulau Timor adalah salah satu pulau di Nusantara yang berada di gugusan Nusa Tenggara atau Sunda Kecil.

Pulau ini merupakan salah satu pulau terluar Republik kita, karena angsung berbatasan dengan laut maupun daratan yang merupakan wilayah  negara lain, yaitu Australia dan Timor Leste. Pulau Timor membujur dari timur laut ke arah barat daya.  

Secara koordinat, Pulau Timor terletak pada 123°BT -127°BT dan 8°LU – 10°LU.  

Di sebelah timur, Pulau Timor berbatasan dengan Kepulauan Selatan Daya ( Maluku), Samudera Indonesia dan wilayah Timor Leste, sebelah barat dengan Laut Sabu, Pulau Semau dan Pulau Rote, sebelah Selatan dengan Samudera Indonesia dan sebelah Utara dengan Laut Sawu serta Pulau Alor, Pulau Atauro (RDTL) dan pulau Wetar (Maluku).    

Di Pulau Timor secara keseluruhan terbagi menjadi 2 wilayah besar, yaitu Timor bagian Barat yang merupakan bagian dari Propinsi NTT – yang mencakup Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor tengah Selatan (TTS), Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Kabupaten Belu -, dan Timor bagian Timur yakni sebuah negara merdeka yang terlepas dari Wilayah NKRI pada tahun 1999 dengan nama República Democràtiça de Timor-Leste (RDTL).  

Terdapat tiga suku di Pulau Timor, yaitu Suku Tetun di Wilayah Timor Leste serta Belu, Suku Dawan di Kupang, TTS dan TTU, dan Suku Helong di bagian barat wilayah Kabupaten Kupang.  

Suku Helong merupakan suku yang budayanya banyak meresap dari masyarakat Pulau Semau yang telah lama datang dan menetap di wilayah Kupang Barat.  

Sedangkan Suku Tetun lebih kental dengan budaya Poertugis, karena sejak ratusan tahun yang lalu, wilayah tetun merupakan jajahan Portugal hingga tahun 1975, sebelum bergabung dengan RI dan akhirnya merdeka menjadi RDTL Suku Dawan merupakan satu-satunya suku yang mencerminkan budaya Timor yang sesungguhnya, oleh karena itu,  sebutan “Orang Timor” atau “masyarakat Timor” dan lebih cenderung berkiblat pada Suku Dawan yang merupakan Suku terbesar di Pulau Timor.  

Jadi, bisa disimpulkan bahwa Budaya Timor adalah budaya Suku Dawan.   Dalam Budaya Timor, bahasa yang di gunakan adalah bahasa Dawan atau bahasa Atoni Uab Meto.  

Adapun budaya dawan ini terbentuk dari beberapa sub-suku antara lain; sub-suku Amanuban, Amanatun dan Mollo di TTS,  sub-suku Miomafo, Biboki dan Insana di TTU) ,sub-suku Kopas, Timaus, Amfoang, Fatuleu, Sonba’i dan Nairasi di Kabupaten Kupang.  

Sejak jaman dulu, sudah ada kerajaan-kerajaan di wilayah dawan, seperti Amarasi, Amfoang, Fatuleu, Sonbai, Amanatun, Amanuban, Mollo, Insana dan Biboki.  

Sebagian besar kerajaan di atas masih ada di dalam pemerintahan adat hingga kini.      

SIFON ( SUNAT LALU KAWINI PEREMPUAN )  

Sifon adalah sebuah tradisi lelaki di daerah Timor Barat terutama Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, dan Belu merupakan suatu tradisi atau mitos agar lelaki menjadi perkasa dengan meninggalkan luka bagi perempuan termasuk penyakit menular seksual.  

Di sungai sebuah ritual Sifon dimulai, di Nusa Tenggara Timur.   Sifon adalah hubungan badan pasca sunat pada laki-laki.   Sunatnya, tak banyak berbeda dengan sunat di daerah lain, hanya saja biasanya dilakukan secara tradisional di kampung-kampung.  

Tujuannya juga baik untuk kebersihan dan kesehatan kaum laki-laki namun sesudah sunat tidak diberikan semacam betadin dan obat anti infeksi bila sifon tak dilakukan dipercaya akan mendatangkan bala atau hal-hal yang buruk.  

Sial yang ada dalam dirinya, kalau itu belum dibuang, istrinya sendiri yang kena.  

Sifon masih banyak dijumpai, terutama pada suku Atoni Meto, Amarasi dan Malaka Pulau Timor. Bila sang pemuda tidak melakukan hubungan seks paska sunat atau sifon, mereka takut akan menjadi impoten.  

Tradisi itu dimulai dengan pendinginan dan pengakuan dosa atau naketi di sungai yang mengalir.   Pasien berendam dalam air di pagi hari. Pelaku sifon harus menyiapkan ayam dan pernak-pernik untuk prosesi sunat yang akan dipimpin dukun sunat atau ahelit.  

Sunat kemudian dilakukan dengan menggunakan bilah bambu, pisau atau diikat dengan tali-tali tertentu.   Jika sudah selesai, pasien kembali dibawa ke sungai untuk proses penyembuhan. Diperlukan waktu sekitar 1 minggu sampai 10 hari untuk mengeringkan luka sehabis disunat, ketika masih terluka itulah, ritual sifon dilakukan.  

Selanjutnya  si pasien tidak boleh lagi berhubungan seks dengan perempuan yang dijadikan obyek sifon seumur hidupnya.   Berdasarkan kepercayaan Atoni Meto, perempuan itu sudah menerima panas dari si pasien yang berarti penyakit kelamin.  

Jika si pria nekad dan berhubungan seks lagi dengan perempuan yang sama, maka penyakitnya akan kembali padanya.   Perempuan yang kena sifon juga diyakini kulitnya bersisik dan berbau.  

Itulah sebabnya mengapa sifon tidak boleh dilakukan dengan istri sendiri. Juga, tidak akan ada lelaki yang mau memperistri perempuan yang menjadi obyek sifon.  

Sifon juga dipercaya membuat laki-laki awet muda. Hubungan seks pasca sunat ada yang berhenti pada taraf sifon, tapi ada pula melanjutkannya hingga tiga tahap.  

Hubunganyang kedua bisa disebut waekane atau haukena yaitu menaikan badan untuk memulihkan kebugaran tubuh, hubungan yang ketiga disebut tak nino artinya membuat mengkilat, membuat mulus kembali.  

Setelah tahap ini, akan dilakukan pendinginan, baru kemudian boleh berhubungan lagi dengan istrinya.  

Tak jarang sang istri tahu bahkan memberi izin bagi suaminya melakukan ritual itu. Menurut para istri, jika ritual itu tidak dilakukan, istri akan mendapat bala.  

Jika seorang pemuda atoni/atoin meto tidak melakukan ritual itu maka akan dikucilkan, disindir-sindir dalam upacara adat.   Sifon sering dilakukan pada masa panen.  

KOMENTAR ANDA

0 komentar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini