Beranda ARTIKEL BERITA Oenaek, Mata Air Di Wisata Alam Camplong yang Kian Sekarat

Oenaek, Mata Air Di Wisata Alam Camplong yang Kian Sekarat

2

Oenaek, dalam bahasa Dawan bila diIndonesiakan berarti Air Limpah (Oe: Air, Naek, Besar/Limpah), atau bisa juga Oenaaek (Oe = Air, Naaek = terendam).
Oenaek adalah sumber mata air yang terletak di  lokasi Obyek Wisata Alam Camplong dan merupakan salah satu ikon dan daya tarik dari Obyek Taman Wisata Alam Camplong ini.
Obyek Wisata Alam Camplong, merupakan salah satu obyek wisata alam yang di Nusa Tenggara Timur, terletak di pinggir jalan Timor Raya, jalan menuju Kab. TTS, tepatnya di Kel. Camplong 1, Kec. Fatuleu, Kab. Kupang.
Kawasan Wisata Alam ini memliki luas lahan 2.000 hektar. 600 Hektar merupakan hutan lindung, dan sisanya 1700 kawasan bukan hutan.
Selain mata air, ada juga gua batu alam, kolam renang, dan juga penangkaran satwa liar. (Ular Sanca, Komodo, dan Buaya Timor) namun yang masih tersisa kini tinggal buaya saja.
 Karena berlokasi di pinggiran jalan, maka tidak sedikit pengguna jalan raya yang menjadikan tempat ini untuk rehat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.  

 

Mata Air Oenaek, sejak dahulu sangat melimpah airnya. Air yang tak henti-hentinya mengalir dari sumber air yang tak jauh dari Gua Alam di sekitar lokasi ini,  bahkan tumpah ruah hingga ke badan jalan raya. 
Saat Musim penghujan tiba, akan bermunculan mata air baru di sekitarnya.

Otomatis masyarakat sekitar tak pernah berteriak kekurangan air bersih walau kemarau panjang melanda. Singkatnya, sesuai nama Oenaek, air bersih di Camplong dan sekitarnya melimpah.

Waktu berjalan beriringan dengan pertumbuhan jumlah penduduk semakin meningkat dari hari ke hari. Oenaek yang dulunya melimpah ruah, kini seperti hanya mampu ditampung dalam kolam renang yang dibangun hanya beberapa meter dari sumber mata air Oenaek ini.
Kolam renang yang tak begitu terawat ini pula, membuat setiap pengungjung yang ingin mandi, boleh saya bilang hanya pengunjung yang nekat saja. Atau pengunjung yang tinggal tidak jauh dari lokasi. Tanya kenapa? Datang dan saksikan.

Sumber mata air Oenaek ini juga diinstalasi untuk menjawabi kebutuhan air minum masyarakat sekitarnya. 
Debit di mata air Oenaek yang dulunya mengaliri pipa-pipa menuju rumah warga sekitar tak ada hentinya, mengalir dua puluh empat jam. Itu dulunya.
Kini?
 Tak selancar dulu. Bahkan beberapa warga sekitar telah mengandalkan mobil tangki untuk menjawabi kebutuhan air bersih.
Hal ini karena Pengaliran air ke rumah warga telah menggunakan penjadwalan. Sebagian di siang hari dan sebagian di malam hari. Namun, meski telah membagi jadwal, tetap saja debit air masih terlalu lemah untuk mengalir hingga ke rumah yang berlokasi di ketinggian.

Bagaimana kita dapat mengembalikan kelimpahan mata air Oenaek? Pertanyaan begitu mudahnya kita jawab. Namun tentu tidak mudah pelaksanaanya.  Apalagi kalau sebatas menulis di blog seperti saya ini. Bisa saja kita dikatai,,,ngomong doang! atau Anak Kupang bilang baomong sa yang banyak, tindakan nol kaboak.
 
Salah satu jawabannya adalah, mata Sumber Mata Air Oenaek harus segera dikonservasi. Mata air itu perlu dikeramatkan kembali seperti dulu. Disini bukan berarti menutup obyek wisata alam. sekali lagi tidak.

Perilaku masyarakat kita terkadang jauh dari harapan. Setiap hari tidak sedikit masyarakat sekitar yang datang untuk mandi dan mencuci pakaian langsung pada sumber mata air. Hal ini tentu karena rumah mereka tidak lagi dialiri air.
Kondisi mata air ini diperparah lagi dengan sampah yang bertebaran di sekitar lokasi. Lengkaplah sudah penderitaan ini.

Sumber mata air Oenaek bila perlu, kembali dikeramatkan seperti dulu.
Menurut salah satu Sumber tulisan (http://pariwisata.serverjogja.com), dikisahkan bahwa

Menurut cerita nenek moyang dahulu Gua Oenaek bernama “Bola Oenaek Fufun” (lubang kepala mata air) karena berada diatas bukit batu yang berjarak 40-an meter dari sumber mata air oenaek. Gua ini dipercaya sebagai tempat tinggal “roh” yang berwujud perempuan tua dan berbuah dada besar, juga kadang mengambil wujud seekor kadal besar atau ular liuksaen (sanca timor). Roh itu bernama “Pah Oel” (tuan air) atau “Pah Metto” (tuan tanah). Dalam hubungan dengan keyakinan tersebut nenek moyang dalam fungsi sebagai tua adapt suku (suku metto) dalam kefetoran Manbait yang sekarang telah menjadi Kec. Fatuleu dan Kec. Takari sering melakukan ritual untuk menjaga kualitas hubungan dengan penghuni gua tersebut selain untuk mendoakan kesejahteraan, keselamatan dan ritual lainnya dengan cara menyembelih seekor babi berwarna merah atau seekor kerbau yang darah dan bulunya dicurahkan di depan mulut gua Oenaek dan di sekitar mata air agar mata air terus mengalir airnya. Keyakinan dan ritual ini memberikan nilai sacral yang tinggi kepada gua Oenaek dan mata airnya dalam perspektif agama suku (halaika) yang dianut oleh para orang tua pendahulu. Pada waktu lampau syarat ritual sembelih hewan di depan gua menjadi ketetapan adat dan keyakinan spiritual yang melahirkan perilaku ramah terhadap alam sehubungan dengan kebutuhan masyarakat akan air bersih dari sumber mata air Oenaek, kayu baker dan batu-batuan di sekitar gua yang tidak boleh sembarangan diambil karena bias menyebabkan kematian atau celaka bagi yang melanggarnya.

 Diuraikan jelas dalam tulisan itu bahwa, dulunya oleh para leluhur tempat tersebut sangat dikeramatkan. Ada ritual khusus setiap tahunnya untuk terus menjaga kelestarian air dan hutan itu
Kita boleh saja mengatakan bahwa ritual penyembelihan hewan di sekitar lokasi mata air ini adalah bentuk berhala, akan tetapi bila dilihat sisi positifnya, hal tersebut secara tidak langsung telah menjadi salah satu langkah menjaga kelestarian mata air itu. 
Tak seorangpun berani mengambil air langsung pada mata air, apalagi sampai mandi dan cuci atau nyawa sebagai taruhan.

Dibandingkan dengan masa kini, walau sudah tertulis larangan di sekitar sumber mata air agar tidak mandi dan cuci disitu, toh, masyarakat yang datang tetap masa bodoh. Entah tidak bisa membaca atau memang pura-pura tidak bisa membaca.
Inilah salah satu dampak modernisasi, bahwa kekeramatan suatu tempat seperti hanya menjadi bahan tertawaan.

Bahwasannya kelestarian mata air Oenaek ini dipengaruhi pula oleh perilaku wisatawan dan wisatawati yang berkunjung ke lokasi tersebut. Tempat sampah yang disediakan seperti tak mampu menampung produksi sampah yang dihasilkan oleh para pengunjung. hasilnya sampah berserakan.

Setelah Gua Batu alam yang telah dikotori oleh vandalisme wisatawan yang kurang bertanggung jawab, setelah tempat penangkaran satwa liar kini telah musnah dengan menyisakan papan nama, maka jangan pula sampai mata air Oenaek suatu saat hanya ada dalam cerita Rakyat Nusa Tenggara Timur.

Bukankah leluhur kita, secara alami telah mengkonservasikannya dengan mengkeramatkan sumber mata air itu? Seperti di daerah-daerah di pedalaman NTT, ada mata air yang hingga kini tidak sembarang setiap orang dapat langsung mengambil air ke sumber mata airnya.  Atau anda akan ditangkap oleh pah oel. Semoga! 

Kolam Renang

Akar Beringin di atas Batu

Tempat Penangkaran Buaya

Gua Alam

Yang tak luput dari vandalisme

Rumah Panggung yang baru di bangun di lokasi wisata Alam Camplong.

 

KOMENTAR ANDA

0 komentar

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini