Beranda ARTIKEL BERITA Maria Okleti | Bantu Aku jadi Pe En Es!

Maria Okleti | Bantu Aku jadi Pe En Es!

0
Menjadi Pegawai Negeri Sipil? 

  
Itulah cita-citaku sejak aku mengenal sekolah menengah. Menjadi pegawai
negeri itu enak, kata guru Bahasa Indonesiaku. Yang penting kamu berusaha
kuliah hingga meraih gelar sarjana. Selanjutnya tunggu saja, setiap bulan
uang akan datang menjumpaimu.

Sejak itu pula aku bermimpi menjadi pegawai negeri. Entah apapun
pekerjaannya asal di bawah namaku bisa tertera sejumlah bilangan, kode
rahasia yang menentukan nasibku sekarang dan di masa tua nanti. Oh, betapa
enaknya menjadi pegawai negeri!
Tapi hingga kini aku masih juga ke ladang. Ladang yang berkerakal dengan
tanaman jagung yang kurus-kurus ini tak seberapa memberi makan untuk aku,
adik-adik dan ibuku. Tanamannya jagung tapi setiap hari kau harus makan
nasi. Ada pohon pepaya, mangga, pisang dan jambu tapi semua itu tidak bisa
menggantikan garam, vitsin dan minyak tanah. Ah, kebun ini kalau bukan
warisan mendiang ayah hendak kujual saja. Aku hendak berangkat ke kota,
dari hasil penjualan tanah itu.Tapi, jelek-jelek ini warisan mendiang ayah.
Akhirnya aku nekat. Kupinjam uang satu juta di koperasi desa, dan sebuah
sepeda motor menjadi milikku setelah pinjaman itu diserahkan kepada dealer
Sepeda Motor. Itu uang muka, yang menyisakan beberapa lembar yang cukup
untuk beras dan minyak tanah bulan ini.
Hari demi hari sepedamotor itu kupacu. Ojek. Masuk kampung keluar kampung.
Sambil sesekali menengok ladang berkerakal. Hujan dan terik tak kupeduli.
Asal adikku bisa berkuliah di kota. Jurusan apalah itu tak penting. Tapi
kalau bisa jurusan yang mudah menjadi pegawai negeri. Untuk itu aku sudah
bertanya ke sana sini. Pak Govan, Guru SM3T yang setia kuojek ke mana-mana,
menyarankan masuk ke Kesehatan. Dia juga menambahkan,”Menjadi bidan atau
perawat butuh duapuluh juta. Kesehatan mahal!” Ah, tapi ada yang lebih
mudah. Masuk FKIP saja. Cukup pilih apa saja. Karena di SMA kau jurusan
IPS, pilih Ekonomi , Geografi atau Sejarah. Makanya adikku akhirnya memilih
PPKn untuk menghindar dari cakaran di Geografi dan Ekonomi, serta hafalan
di Sejarah. Yah, lumayanlah. Bisa berapa tahun? Empat atau lima tahun. Oke,
tenang saja aku, kakakmu, akan berusaha. Sapi-sapi mendiang ayah masih
beberapa. Tak usah ragu.
Maria Okleti pung to’o hahahahahahah
Hingga ketika sapi di kandang tertinggal tiga ekor, adiku berhasil meraih
gelar sarjana. Betapa senangnya Namanya Maria Okleti, dibubuhi embel-embel
es pe de, singkatan dari Sarjana Pendidikan. Dia akan menjadi guru yang
menurut kata pameo, digugu dan ditiru. Memang benar pameo ini, Guru Bahasa
Indonesia di SMPku dulu benar-benar digugu dan ditiru oleh muridnya: aku
sendiri. Paling kurang, aku percaya pada pendapatnya tentang PNS.

Selepas wisuda, adikku sudah mulai mencekoki anak-anak di sekolah swasta,
sebuah SMP Satu Atap, — walaupun atapnya lebih dari satu — di desa kami.
Tahan-tahan, ya, sambil menanti jadwal testing. 
“Kak, ada satu Bapak yang mau bantu,” kata adikku di suatu makan malam di
rumah yang berdinding bebak beratap alang-alang itu, usai antrian mendaftar
di kota Kabupaten yang jarang terik. 
“Dia bilang yang daftar untuk PPKN ada
35 orang tapi yang dibutuhkan hanya tiga orang.“

“Lalu?”
“Lalu dia bilang kalau kita mau, dia bisa bantu kita.”
“Bantu apa? Kalau dia mau bantu, ya bantu, toh.”
“Dia bilang, dia bisa atur supaya saya diterima.”
“Apa? Wah, lalu kau bilang apa?”
“Saya tanya dulu kakak, mau atau tidak. Dia ada kasih tinggal nomor.”
Tak sabar aku lantas memencet nomor yang disebutkan adik.
“Halo, selamat malam!” Suara dari seberang.
“Selamat malam. Ehm, ini dengan kakaknya Maria. Maria yang mendaftar untuk
PPKN.”
“Oya, bagaimana? Maria sudah bilang-bilang?”
“Untuk itu, saya hubungi bapak.”
“Jadi kamu bersedia?” Bersedia apa?
“Pokoknya ini saya hanya bantu saja. Jadi kalau tidak mau ya sudah.” Apa
yang dimaksud dengan ‘kalau tidak mau’?
“Oh, baik, baik bapak. Nanti saya usahakan.”
“Ok. Nanti tolong suruh adik, kasih nama dan nomor ujian di saya, ya?”
“Baik, Bapa!”
Aku menutup telepon. Aku percaya. Bapak itu masih saudara dengan nenek
kami, katanya. Yah, tapi aku bukan orang yang tidak tahu adat. Adat orang
kita perlu ada sirihpinang, bukan? Baiklah, Bapak. Dua ekor sapi.
***
Aku segera menelpon adik. Mengucapkan selamat. Dan, sudah tentu,
satu-satunya sapi yang tersisa itu pasti cukup untuk acara syukuran.
“Kakak,” suara adik di telepon. “Bapak sudah di kantor polisi. Pengumuman
hasil testing dibatalkan!”
Aku kehilangan huruf-huruf untuk dirangkai menjadi kata. Hanya ini [?]
serempak dengan ini [!].
***
ups…aku lupa! sekarang sudah pakai sistim CAT.(computer asisted test) .hasilnya langsung bisa dapat! he he he ! 
makan ko tambah!
*****

KOMENTAR ANDA

0 komentar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini