Beranda ARTIKEL BERITA Lima Kebiasaan Keliru dalam Mendidik

Lima Kebiasaan Keliru dalam Mendidik

1

            Mengasuh dan mendidik anak merupakan tanggungjawab utama  yang harus dijalani oleh setiap orangtua. Namun, tidak setiap orangtua membekali diri dengan pengetahuan dan ketrampilan tentang pendidikan dan pengasuhan anaknya secara memadai. (dalam hal ini…saya salah satunya..heheheh)
But i Promise….saya yakin….dan senantiasa Berserah Pada TUHAN yang maha mendidik, yang maha bijaksana, akan senantiasa memberiku ilham, yang dapat memampukanku untuk mendidik anak-anak yang telah dipercayakan Tuhan kepada saya!


Okelah, mari kita lanjutkan pembahasan…..
Zaman berubah dengan pesatnya dan anak-anak zaman  pun mengalami perubahan. Anak-anak sekarang pun berbeda dengan anak-anak zaman dahulu. Anak-anak zaman digital lebih aktif, kritis dan agresif sehingga penggunaan otoritas saja tidak mapan untuk “menjinakkan” mereka. Tidak jarang sering kita dapati, keluhan datang selalu datang dari para orangtua maupun dari para guru bahwa anak-anak sekarang sulit diatur. 
Oleh karena anak-anak susah diatur maka orangtua lebih sering menggunakan “kekerasan” atau bahkan sikap “membiarkan”. Akibatnya, anak-anak tumbuh tanpa pola perilaku yang jelas karena mereka belajar  dari apa yang diperlakukan orangtua kepadanya. Maka dibutuhkan semacam kiat baru untuk pendidikan anda.
            Sebagai bahan instrospeksi, berikut ini “Lima kebiasaan Keliru” yang sudah lazim dilakukan para orangtua dalam mendidik anak-anak.

1.      Menyuap
Orantua sering mengalami kesulitan menghadapi anak yang sering rewel. Beberapa orangtua menggunakan jalan pintas agar tidak membuang waktu, anak diberi sejumlah uang setiap kali rewel. Penyuapan ini akan terus meningkat sejalan dengan bertambahnya usia anak. 
Dengan cara seperti diatas ini, maka anak memanfaatkan kelemahan orangtuanya. Malah anak-anak bakal balik mengancam orang tua, seperti tidak mau pergi ke sekolah jika tidak dibelikan sepeda motor, dlsb. 
Pola ini akan selalu mewarnai kepribadian anak,  sehingga anak hanya akan mau bekerja apabila ada imbalannya bahkan harus bayar di muka!. 
Maka janganlah heran kalau suap-menyuap ini akan terbawa dan membudaya dalam kehidupan masyarakat karena memang sudah terpola sejak kecil.!

2. Mengancam
Mengancam adalah kebiasaan lain yang sangat sering dilakukan orangtua ketika menghadapi anaknya yang tidak mau menurut. 
Misalnya, “Kalau tidak mau makan, nanti tidak diajak jalan-jalan”. 
Memang ancaman itu baik untuk anak yang rewel namun tidak baik untuk pembentukan karakter anak. 
Maka jika ancaman pertama kurang berhasil, akan diciptakan ancaman berikutnya.

Ancaman juga sering dilakukan di kelas ketika guru kewalahan menghadapi perilaku siswa yang bandel. Ancaman akan menghasilkan rasa takut dan terpaksa pada diri anak. Bahkan rasa dendam akan bersemai.  Ancaman tidak akan menghasilkan pribadi yang baik. Karena ketika hidup tanpa ancaman maka anak lepas kendali lagi. Maka jangan heran jika seorang anak menjadi anak penurut semasa kecil/ atau semasa di bangku sekolah, namun menjadi anak bandel di masa muda dan dewasa / setelah lulus dari sekolah.
Maka hendaknya sebagai orangtua perlu kita  membangun rencana bersama. 

Misalnya anak inginkan nilai matematika berapa? 
Buatlah target bersama anak. Kemudian susun rencana  untuk mencapai nilai tersebut.
Atau, dengan cara berlatih megerjakan soal-soal matematika sejam sehari. 
Tentu akan berhasil. Tanpa adanya awasan dan ancaman, anak akan tahu apa yang mesti dilakukan.!

3. Menghukum

Percaya saja! hukuman yang sampai menyakiti anak, justru akan berubah menjadi dendam! Siapa yang mau dihukum? semua orang tidak ingin! Kendati anak melakukan kesalahan yang fatalpun, sebagai orang tua / guru kita patut mencari solusi terbaik, (win-win solution)

Hukuman juga sering diberikan secara tidak obyektif kepada anak. Hukuman justru diberikan karena luapan emosi dan frustrasi guru / orangtua yang tidak terkendali.  
Bagaimana kita dapat bersikap baik terhadap anak yang berbuat salah?
Yah. Tanyakan, mengapa ia berbuat salah? 
Pemberian hukuman kepada anak, seolah-olah berkesan anak tidak boleh berbuat salah. 
Padahal, kita tahu bahwa kesalahan dan kegagalam adalah proses alami menuju keberbasilan. Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.!

4.Membandingkan

hayo ngaku siapa saja yang pernah membandingkan anak  didiknya yang satu dengan yang lainnya?

“dia saja bisa,  mengapa kamu tidak bisa?”. 

“si A dapat nilai sepuluh, mengapa kamu cuma dapat nilai enam”. 

Sebenarnya dengan membandingkan maka harga anak direndahkan dan tidak dihargai. Anak akan kehilangan rasa percaya diri dan minder terhadap teman-temannya. 
Hingga lama kelamaan timbul rasa benci dari anak yang satu kepada anak yang menjadi pembandingnya.

Setiap anak unik dengan kelebihan dan kekurangannya yang harus dihargai dan diakui.   

5. Melabeli atau memberi  cap
“anda anak pintar”, “anda anak yang rajin”, “anda anak yang bodoh”, “anak yang pemalas”, “anak bandel”. “anak bermasalah”.  


Mengapa harus melabeli seperti itu?  
Anda bisa membayangkan betapa sakitnya hatimu jika anda dilabeli demikian?


Jadi, lima kebiasaan diatas dapat merusak kepribadian anak bahkan akan sangat merugikan proses pembentukan kepribadian dan karakter seorang anak.

KOMENTAR ANDA

0 komentar

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini