Beranda INSPIRASI KOROLEILEI: GOTONG ROYONG REKREATIF

KOROLEILEI: GOTONG ROYONG REKREATIF

0
KOROLEILEI: GOTONG ROYONG REKREATIF
(Andreas Tefa Sa’u)

Masyarakat tradisional dan sederhana di desa – desa pegunungan daerah Dawan hingga sekarang masih memelihara dan melaksanakan satu dua model kerja sama. Kadang – kadang mereka masih mengaktualisasikan satu dua model gotong royong yang adalah khas budaya mereka. Dari semua bentuk kerjasama yang dipraktekkan ada satu model kerjasama atau gotong royong, yang sangat unik dan bahkan sangat menarik perhatian sejumlah besar orang untuk turut mengambil bagian secara aktif. Penulis sendiri merasakan daya gugah kegiatan kerjasama tersebut, yang mendorong saya untuk menyebutnya gotong royong rekreatif. Orang Dawan dialek Noemuti menyebut aktifitas itu dengan nama Koroleilei. Sering juga disebut angkalale atau angkarari.
foto : kompas.com

Apa saja dibuat dalam acara tersebut? Pertama-tama perlu dikemukakan bahwa vokabular yang digunakan di sini, yakni koroleilei, tidak diketahui secara pasti asal usulnya. Diduga kuat bahwa vokabular itu dipinjam dari bahasa penduduk lain (mungkin bahasa Rote ???), namun data yang akurat tentang itu tidak atau belum ditemukan, atau paling kurang belum diselidiki hingga sekarang. Kata itu hanya bisa dijelaskan dan dimengerti sesuai dengan isi kegiatan yang mewarnainya. Yang dilakukan dalam kegiatan itu adalah  pekerjaan menumbuk padi secara bersama-sama, baik  laki-laki maupun wanita pada malam hari dengan menggunakan palungan panjang sejenis perahu layar, dengan ukuran yang berbeda-beda. Kegiatan termaksud sebenarnya merupakan salah satu acara persiapan bahan makanan beras padi untuk sebuah pesta kenduri atau peringatan dan penghormatan seseorang yang sudah meninggal. Untuk urusan itulah pihak penyelenggara, bekerjasama dengan para pemuka adat setempat, mengundang masyarakat luas supaya turut membantu persiapan pesta dalam bentuk rekreasi bersama selama beberapa malam berturut-turut, hingga rencana itu terpenuhi. 

Yang dibutuhkan untuk acara rekreasi dan kerja gotong royong itu adalah sebuah atau beberapa buah palungan panjang dengan ukuran antara 10 meter sampai 20 meter, lebarnya sesuai dengan ukuran besarnya pohon kayu agar bisa menumbuk padi. Alu atau alat tumbuk berupa sepotong kayu lurus berukuran sedang sepanjang 1,25 meter digunakan dalam kegiatan tumbuk menumbuk tersebut.  

Siapa saja pesertanya? Pesertanya adalah pria dan wanita, tua muda, besar kecil. Selain itu ada aturan permainan bersama yang harus ditaati dan diikuti tanpa banyak komentar. Aturan yang dimaksudkan adalah posisi duduk dalam melakukan kegiatan gotong royong tersebut. Kaum laki-laki dan wanita duduk saling berhadapan, dipisahkan oleh palungan sebagai pemisah sekaligus sarana kerjasama. Semua wanita duduk berjejer berdampingan sepanjang satu sisi palungan berhadapan dengan semua laki-laki yang menggunakan sisi lainnya dalam posisi duduk yang sama. Biasanya setiap orang memegang alat tumbuknya masing-masing, namun terkadang lelaki dan wanita yang saling berhadapan menggunakan satu alat tumbuk yang sama, yang dibawa oleh laki – laki. Pada umumnya orang mengambil tempat duduk secara bebas di atas tikar besar dan lebar, yang dibentangkan sebagai alas bagi palungan dan penampung biji – biji padi, yang terbuang dari dalam palungan. Sering juga terlihat bahwa wanita / pemudi  dan pria / pemuda yang sama selalu duduk berhadapan dalam setiap kali kegiatan tumbuk, yang memberikan isyarat bahwa mereka saling bertaut hati. Kegiatan tersebut melibatkan puluhan bahkan ratusan orang pria dan wanita, juga anak – anak dan orang tua. 

Mengapa acara itu melibatkan begitu banyak peserta? Apa sebenarnya daya tarik atau daya gugah acara itu bagi masyarakat luas? Aktifitas gotong royong ini bukanlah sekedar sebuah kegiatan gotong royong biasa seperti jenis gotong royong lainnya, yang dikenal dan dipraktekkan masyarakat Dawan. Keistimewaan aktifitas ini terletak justru dalam suasana rekreasi, yang dialami dan terkadang didambakan oleh setiap hadirin. Pekerjaan menumbuk padi secara bergotong royong itu sendiri sebenarnya tidak terlalu menarik. Yang lebih menarik adalah lagu – lagunya yang khas, yang dinyanyikan secara bersama-sama dan bergantian antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. Pembagian kelompoknya terjadi secara otomatis, yakni antara kelompok yang mengangkat dan menyanyikan pantun, yang dilantangkan oleh pribadi – pribadi, yang dikenal dan terkenal untuk itu, yang dinyanyikan oleh para pendukungnya. Sementara itu kelompok lain membentuk diri untuk menyanyikan ayat refrein, yang harus diulang selama pengangkat pantun belum memberitahukan niatnya untuk mengakhiri syair – syairnya. Pada umumnya syair – syair pantunnya dipilih secara spontan tetapi sangat teratur dan saksama menurut format umum, yang sudah dikenal oleh setiap ahli pengangkat pantun. Syair – syairnya berisikan penghormatan dan penghargaan kepada pribadi yang sudah meninggal dari marga penyelenggara. Sering juga muncul syair pantun tentang keutamaan – keutamaan pribadi tersebut. Syair – syair itu dinyanyikan secara berganti – ganti antara dua kelompok sambil menumbuk padi mengikuti irama nyanyian yang didengungkan. 

Dalam kegiatan  tersebut  ada paling kurang dua jenis ritmus lagu atau nyanyian yang digunakan, yakni ritmus cepat, hidup dan ritmus slow. Nyanyian berirama cepat dan hidup biasanya digunakan pada permulaan kegiatan tumbuk padi. Dalam irama seperti itu diharapkan agar gabah yang baru diisi ke dalam palungan bisa ditumbuk cepat dan baik, dalam arti pemisahan kulit dari isinya. Bila  pekerjaan awal dalam irama cepat dan hidup sudah berhasil, maka secara spontan atau disampaikan oleh salah seorang untuk mengganti irama lagu dari yang cepat dan hidup, yang artinya keras, menjadi lamban dan perlahan – lahan. Dengan demikian irama kedua digunakan atau dilantunkan yakni irama slow. Bila orang  mendengar  irama lagu cepat dan hidup, hal itu menandakan bahwa pekerjaan rekreatif tersebut baru memasuki tahap awal, maksudnya gabah barusan diisi ke dalam palungan. Sebaliknya kalau orang mendengar irama slow, maka orang tahu  bahwa pekerjaan tumbuk satu palungan sudah hampir selesai. Jadi setiap kali gabah baru diisi ke dalam palungan, orang selalu menggunakan secara bergantian dua ritmus lagu tersebut di atas.

Kerja gotong royong yang bersifat rekreatif ini menyiapkan kesempatan atau  ruang dan waktu bagi kelompok pemuda dan pemudi untuk saling bertemu dan mencari jodoh di antara mereka. Yang lebih utama adalah para pemuda, yang ingin mencari jodoh atau calon istri dari kampung atau desa, yang menyelenggarakan pesta gotong royong rekreatif tersebut. Selain dari itu kesempatan termaksud merupakan ruang untuk memperkenalkan para pengangkat syair – syair pantun tradisional, sekaligus menguji kemampuan para pemantun tersebut.  Dari sana orang tahu siapa dari antara para pemantun tersebut yang lebih hebat dan lincah dalam melantunkan syair-syairnya, sehingga dapat diikuti dengan baik dan mudah oleh para pendukungnya. 

Syair-syair pantun yang dilagukan merupakan daya tarik utama bagi anggota masyarakat, khususnya kaum lelaki, baik yang muda maupun dan umumnya yang sudah dewasa atau berumur. Di dalam kegiatan kegembiraan itu orang sama sekali tidak memikirkan beratnya pekerjaan, yang dilakukan secara bersama-sama. Yang sering dipikirkan adalah perhatian tuan rumah sebagai penyelenggara atau pengundang. Bukan makanan yang diharapkan melainkan suasana kegiatan yang dikehendaki. Tuan rumah paling banyak menyiapkan minuman alkohol dan sirih pinang secukupnya, yang menjadi kesukaan orang atau masyarakat setempat. Setiap orang sudah tahu, kalau hendak menghadiri kegiatan seperti itu, tidak perlu lagi menyimpan harapan untuk memperoleh tawaran makan dan minum. Sebab orang sudah menyelesaikan urusan dan kebutuhan itu dari rumah masing – masing. Siapa saja, yang  mempunyai minat, dipersilahkan untuk menghadiri kegiatan  itu.  Kendati demikian sering tuan rumah menawarkan hidangan ala kadarnya, walau bukan suatu hidangan kewajiban, sebagai tanda penghormatan kepada para tamu atau pengunjungnya.

Pada saat orang lain ramai – ramai menumbuk padi sambil menyanyi riang gembira, sekelompok ibu dalam rangkaian kerjasama tersebut, berusaha memisahkan dedak dari beras padinya. Pekerjaan itu mereka lakukan dengan penuh kesadaran dan pengabdian, tanpa memperhitungkan sedikitpun hal – hal atau kebutuhan-kebutuhan lainnya. Pada umumnya kelompok para ibu tersebut berasal dari kampung atau desa, yang sedang mengadakan kegiatan tersebut. Mereka termasuk dalam kelompok tuan rumah.  

Yang sangat perlu untuk diberikan tekanan dalam acara ini adalah hal – hal positif yang dapat diambil dari kegiatan tersebut. Dalam kesempatan seperti itu orang saling mengenal satu sama lain dari berbagai dusun, kampung ataupun desa berbeda, yang dekat dan jauh. Kesempatan itu merupakan sebuah momentum sosialisasi kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian orang saling mengenal dan berkomunikasi, sehingga dapat berpengaruh positif terhadap setiap anggota yang hadir. Hal ini membantu menghalang atau menbendung setiap ancaman kekacauan atau pertentangan antara desa. Kesempatan itu memberikan juga kemungkinan bagi para pemuda untuk mencari calon istrinya dari luar desanya, yang berarti membuka horison pandangan orang-orang tersebut. Kesempatan tersebut  juga merupakan ajang integrasi antar penduduk berbagai kampung atau dusun di sekitarnya.

Koroleilei atau angkalale adalah sebuah kegiatan gotong royong rekreatif hanya bisa dilakukan dalam rangkaian persiapan sebuah pesta kenduri atau pesta peringatan kematian seseorang. Acara seperti itu tidak dikenal dalam pesta-pesta gembira lainnya. Ada hal-hal tertentu selama kegiatan itu, yang tetap harus dipatuhi oleh setiap peserta. Pertukaran sarana-sarana bantuan yang memperlancar kegiatan itu tidak boleh dilakukan di atas tempat dan melewati bagian atas palungan. Orang harus sedapat mungkin berusaha untuk saling membagi sarana lewat bagian bawah, bila keadaan mengijinkannya, seperti alat tumbuk, tempat sirih pinang. Juga manusia tidak diperbolehkan melanggar palungan tersebut. Tetapi bila terjadi bahwa seorang tanpa sadar melanggarnya, maka sebuah ucapara singakat dan sederhana harus digelar untuk memulihkan kembali keadaan. Adalah suatu pertanda buruk bila terjadi bahwa seekor anjing melanggari palungan tersebut. Itu memberikan sebuah tanda yang tidak menggembirakan, khususnya bagi keluarga penyelenggara. Kejadian itu ditafsirkan sebagai pratanda kematian seseorang lagi dari keluarga yang merencanakan perayaan itu.

Demikian catatan pendek tentang Koroleilei, sebagai satu kegiatan gotong royong rekreatif dalam upaya memberikan penghormatan terhadap orang mati, dalam wilayah Dawan, khususnya Noemuti, Timor Tengah Utara. 
————————————————————————————

KOMENTAR ANDA

0 komentar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini