Beranda ARTIKEL BERITA Kembang Api & Konvoi Sepeda Motor, Rutinitas atau Tradisi?

Kembang Api & Konvoi Sepeda Motor, Rutinitas atau Tradisi?

0

(foto by liputan6)

Selama 356 Hari, kita telah menjalani tahun 2016. Semalan, adalah hari terakhir melepas pergikan tahun 2016, dan segera kita akan mengganti kalender dengan angka 2017.

Selamat Memasuki tahun 2017, semoga di tahun ini saya dan anda senantiasa dialirkan rejeki yang berlimpah dari Yang Maha Memiliki Kehidupan Ini.

Sudah menjadi sebuah tradisi, yang entah pertama kali dimulainya sejak kapan, akan tetapi, semenjak tahun 2005, saat saya mulai melanglangbuana di kota kupang, saya pertama melihat riuh ramainya orang-orang di Kota (Kupang) melepas tahun lama dan menyambut tahun baru.

Pesta kembang api, dan arak-arakan kendaraan bermotor akan memenuhi hampir semua jalan utama di kota Kupang saat jarum jam menunjuk angka dua belas atau pukul 00.00 di tanggal 31 Desember.

Saya tahu pun tahu, oh begini ya ternyata ramainya akhir tahun di kota (kupang).
Di tahun itu, saya pertama kali menyaksikan arak-arakan itu dan itu membuat saya terheran-heran bin sedikit bingung karena ini amat asing buat saya. Konvoi dan arak-arakan sepeda motor itu berlangsung hingga pukul 04.00 dini hari.
Tidak hanya itu, kembang api yang disertai bunyi dan nyala warna-warni di langit membuat saya harus membuka mulut. Orang timor bilang namkak!. 
Ya Saya akui itu. Karena terlahir dan besar di pedalaman, yang asing sekali dengan Kembang Api. Kalau soal bunyi-bunyian saja sih tidak begitu asing.
Di kampung saya, menjelang Natal dan Tahun baru, ada juga petasan yang dibunyikan, dan sampai saat ini saya belum tahu itu mula-mula berawal dari mana sehingga sudah seperti tradisi.
Petasan Kami dikampung adalah korek api sebagai bahan bakar utamanya. Atau untuk yang kakak-kakak usia remaja dan dewasa biasanya petasan mereka adalah sepotong bambu berukuran kira-kira 1,5 meter, dengan bahan bakar minyak tanah. Bambu itu dinamakan Meriam Bambu.

Di Kota Kupang dan beberapa daerah di NTT, Pesta Kembang api dan arak-arakan kendaraan, seperti sudah menjadi tradisi di setiap tahun.
Kalau terompet, sesuai pengamatan saya beberapa tahun terakhir tidak begitu populer. Yang menonjol dari tahun ke tahun masih soal kembang api, dan ditutup dengan konvoi yang boleh saya katakan tidak begitu beraturan.

Konvoi sepeda motor ini seperti tidak hanya menjadi rutinitas di Kota Kupang, akan tetapi turut merambat sampai ke beberapa kota kabupaten di NTT.
Semalam, di sekitar wilayah Kec. Fatuleu, di Lili – Camplong, tak ketinggalan beberapa sepeda motor melakukan arak-arakan. Konvoi yang lebih banyak menggunakan knalpot racing yang bunyinya cukup mengganggu indra pendengaran itu, tidak berlangsung lama, sebab hujan turun membubarkan mereka.
Pesta kembang api di wilayah ini pun tidak begitu meriah. Masing-masing orang menyalakan kembang apinya dari rumah mereka.

seru-seru aja sih…namun bisa dibilang mengganggu. he he he.

Konvoi semalam (saya agak malas mendokumentasikan)

Mungkinkah suatu saat tradisi konvoi dan pesta kembang api yang tak terkontrol ini bisa segera berakhir?

KOMENTAR ANDA

0 komentar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini