Beranda ARTIKEL BERITA Kami Adalah Indonesia

Kami Adalah Indonesia

0

Kalian yang bicara soal kemakmuran.. kalian yang masih saja berteriak tentang kesejahteraan, pernahkan kalian melihat kami? Pernahkah sesekali kalian menolehkan pandangan kea rah kami? Kami yang hanya menginginkan tempat yang layak. Layak untuk mengenyam pendidikan. layak untuk bisa mendapatkan pelajaran. Layak untuk memperoleh apa yang menjadi hak kami. Kami juga adalah anak negeri. Yang sama seperti mereka di kota besar.

Kami Adalah Indonesia! Berkibarlah Benderaku….singkirkanlah Kutu-kutu yang melekat di tiangmu!
Tak jauh dari hiruk pikuk kegiatan perkantoran di Civil Center Oelmasi, ibu kota Kabupaten Kupang. Sekitar 8 KM, kea rah Timur, tepatnya di Desa Naunu, berdiri miring tidak tegap, sebuah gedung sekolah Swasta dengan kondiri darurat. Ya. Kedaruratan gedung ini sudah tak lagi berdiri tegap. Papan nama sekolah yang dipajangpun sudah roboh. Setelah dikonfirmasikan kepada kepala sekolahnya, beliau hanya bisa mengatakan. “sudah roboh dimakan usia”.
SD Yohanes Don Bosko Naunu, berdiri di tengah masyarakat eks pengungsian Timor Timur. Disini saya tidak bermaksud menggali luka lama. Saya hanya ingin menggambarkan kondisi social masyakata setempat.

Kondisi gedung sekolah serba darurat. (dari luar saja sudah begini) tausah kita melihat lebih dekat ke dalam…. Memprihatinkan!
Sekolah swasta milik sebuah yayasan Yang bernama Yayasan Bintang Timur ini, telah berdiri sejak tahun 2010. 4 tahun sudah berlalu, gedung ini masih saja berdiri miring tidak tegap.
Kondisi darurat gedung sekolah tersebut, menaungi 66 anak siswa Sekolah Dasar. Yang sebagian besarnya merupakan Masyarakat Eks Pengungsian Timor Timur.
Ketika didatangi di siang hari, aktivitas persekolahan sudah usai. Ya ini hari adalah hari pendek. Hari Jumat. Sudah menjadi sebuah kebiasaan. Bahwa ini adalah hari Ibadah bagi umat beragama tertentu. Maka sebagai warga Negara kita harus bertoleran. Pulang lebih tempo.

Dari kejauhan terlihat sebuah sepeda motor tua diparkir persis di ujung gedung darurat tersebut. Setelah memberikan sapaan dari luar, seseorang keluar dan menyambutku dengan senyum penuh harapan. Oh…saya kira dari dinas… sambut seorang Lelaki paruh baya, yang belakangan saya tahu bahwa ini kepala sekolahnya.
Setelah berbasa-basi, tentang perkenalan diri saya…akhirnya saya diperkenankan untuk mengambil gambar. Bahwa…memang…kami sudah berusaha untuk menegerikan sekolah ini… hmmm….kenapa mesti negeri? Swasta atau negeri kan sama saja toh…. Tujuannya kan ingin memberikan pendidikan bagi anak-anak setempat  kan?
Tidak… kalau negeri kan bantuannya bisa melimpah ruah…. Tidak ada diskriminasi…semuanya berjalan mulus kalau status kita negeri…ah…sudah kami usahakan untuk menegerikan. Tetapi terkendala karena lokasi sekolah ini berada di kompleks Gereja. Mau tidak mau kita harus terus berstatus swasta.
Sudahlah pak… datangi saja Yayasan yang sudah ada. Yayasan milik gereja yang membawahi Sekolah-sekolah swasta milik gereja. Mungkin saja akan ada jalan keluar.
Tetapi…. Iuran bulanan dari yayasan adalah salah satu hambatan. Bapak tahu bahwa di sini siswa-siswi kami rata-rata semuanya berada di bawah kesejahteraan. Kami takut nanti iuran bulanan akan menjadi sebuah hambatan untuk keberlangsungan hidup sekolah ini.
Ah……bapak kepala sekolah… tausah berprasangka buruk dulu. Datangi saja dan mintalah solusi ke sana. Barangkali saja akan diberikan subsidi dari sekolah-sekolah milik yayasan yang ada di kota.
Nah semoga saja ya pak…saya hanya membantu memotret dan mengeksposenya ke media. Dengan harapan biar sobat-sobat lain pada tahu. Bahwa, dibalik kemakmuran dan kesejahteraan ribuan siswa disana, ternyata di tengah-tengah ibu kota kabupaten, masih ada juga sekolah-sekolah yang belum berdiri tegap untuk siap mencapai tujuan mulia pendidikan.
Adakah sekolah lain yang masih seperti ini? Semoga saja.,tidak !

Oh iya…SD Yohanes Don Bosko Naunu memilik 66 orang siswa, dengan 6 orang Tenaga Pengajar. 

KOMENTAR ANDA

0 komentar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini