BERITAOPINIPENDIDIKAN

Hari Guru dan Wajah Baru Pendidikan Indonesia

Hari Guru dan Wajah Baru Pendidikan Indonesia

Oleh : Erfan Sandung, S.Pd ( Guru Daerah Perbatasan – SMAN 1 Amfoang Timur – Oepoli – Kab. Kupang)

Biacara soal hari guru pasti tidak luput dari pertanyaan tentang seputar kualitas pendidikan.   Masalah guru selalu menjadi seni tersendiri.

Bagaimana tidak,  sorotan tentang guru sering terjadi karena pendidikan kita boleh dibilang masih mengalami kepincangan.  

Tentu yang bertanggung jawab disini adalah tokoh pendidik yaitu guru. Ada yang mengatakan kualitas sebuah pendidikan, bergantung pada kualitas gurunya.   Sebentar lagi Indonesia akan menyentuh umur 100 tahun pada 2045 mendatang. Tahun 2045 disebut sebagai jendela demografi (window of demography).   

Indonesia Emas 2045 telah menjadi impian besar untuk membentuk Indonesia yang mampu bersaing dengan bangsa lain serta dapat menyelesaikan masalah-masalah yang mendasar di Tanah Air kita, seperti isu korupsi, kemiskinan, dll.  

Namun untuk mencapai keinginan diatas tentu banyak hal yang perlu dibenahi salah satunya soal kualitas sumber daya Manusia Indonesia (SDM).   Bicara soal SDM tentu bukan perkara yang mudah.   

Pendidikan merupakan salah satu Agen yang berperan penting terhadap perubahan kualitas sumber daya anak Indonesia.   Lalu seperti apa persiapan para Guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan menuju masa ke emasan ini?   Berdasarkan Survey United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), terhadap kualitas pendidikan di Negara-negara berkembang di Asia Pacific, Indonesia menempati peringkat 10 dari 14 negara.  

BACA JUGA :   Info Nomor Telepon Penting di Kupang

Sedangkan untuk kualitas para guru, kulitasnya berada pada level 14 dari 14 negara berkembang.   Angka diatas tentu sangat prihatin dan menjadi tantangan tresendiri bagi para guru di Indonesia.  

Lalu apa amunisi yang perlu disiapkan para guru sekarang?   Saya secara pribadi ingin menawarkan bebarapa poin yang perlu dibenahi.

Pertama, sistem kurikulum kita berbasis anakoling tempat.   Yang merujuk kepada situasi, kondisi dan kebutuhan daerah setempat. Saya melihatnya kurikulum yang sentralistik membuat potret pendidikan semakin buram.  

Kurikulum hanya didasarkan pada pengetahuan pemerintah tanpa memperhatikan kebutuhan masyarakat.  

Lebih parah lagi, pendidikan tidak mampu menghasilkan lulusan yang kreatif. Ini salahnya, kurikulum dibuat di Jakarta dan tidak memperhatikan kondisi di masyarakat bawah.  

BACA JUGA :   Ujian Praktik, SMAN 1 Amfoang Timur Hadirkan Aneka Tarian dan Lagu Daerah NTT

Jadi, para lulusan hanya pintar cari kerja dan tidak pernah bisa menciptakan lapangan kerja sendiri, padahal lapangan pekerjaan yang tersedia terbatas.    Kedua, meningkatkan kualitas guru melalui pelatihan dan ketrampilan khusus.

Kraetifitas guru sangat dibutuhkan.   Pengetahuan dan ketrampilan satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan.  

Berdasarkan sebuah studi tentang Pengkajian dan Pengajaran Keterampilan Abad 21 ( The Assessment and Teaching of 21st Century Skills) telah mengategorikan keterampilan abad ke-21 menjadi empat bagian besar, yang memungkinkan individu untuk berkontribusi terhadap modal sosial (social capital) dan modal intelektual (intelectual capital) di zaman modern.  

Beberapa kategori tersebut adalah; Cara berpikir, termasuk kreativitas, inovasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, membuat keputusan dan melakukan pembelajaran serta Cara bekerja termasuk keterampilan komunikasi, kolaborasi dan bekerjasama secara tim itu juga penting. So, ketrampilan sangat dibutuhkan.    

Hal ketiga adalah Soal upah atau pendapatan guru. Ini juga sering menjadi persolan tersendiri bagi guru. Pendapatan tidak diimbangi dengan beban kerja dan tuntutan yang begitu banyak.

BACA JUGA :   Bermain dengan Sentuhan Personal, Solulsi bisa Baca Tulis Sejak Kelas Satu SD | Buku

Hal  ini salah satu alasan yang membuat guru belum serius dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.     

Profesionalisme guru harus diimbangi dengan pendapatan guru. Lebih khususnya teman2 guru yang swasta.  

Artinya dari sisi ekonomis harus dipertimbangkan juga.   Saya yakin dan percaya dengan ketiga poin diatas akan berpengaruh pada kualitas siswa. 

Selain itu, mayoritas guru terutama guru di sekolah kecil dan di pedesaan atau daerah terpencil sejauh ini masih belum memiliki kualifikasi penuh, sehingga mengalami kesulitan dalam menerapkan pendekatan pembelajaran abad ke-21, terutama yang berkaitan dengan TIK.

Oleh karena itu sekali lagi, pelatihan dan ketrampilan masih sangat dibutuhkan.  

#Semangat dan Maju, untuk guru Indonesia!!
#Spesial hari PGRI 25 Nov.2019.

KOMENTAR ANDA

komentar

Tags
Baca Selengkapnya

Related Articles

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Nonaktifkan Javascript Anti Iklan Anda :)
%d bloggers like this: