Beranda OPINI Guru Honorer, Oemar Bakri Jaman Now

Guru Honorer, Oemar Bakri Jaman Now

0

selamat hari guru.
saya ucapkan untuk semua guru di mana saja berada. Dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Pulau Rote.
Tidak ada kata terlambat. Lebih baik telat dari pada tidak sama sekali!

Ide atau latar belakang lahirnya tulisan ini sebenarnya sederhana saja. Saya berpikir untuk menuliskan ide ini saat membaca beberapa berita di media sosial.

Salah satu berita yang menjadi pemantik adalah, angin segar yang diembuskan oleh Wali Kota Kupang kepada para Guru Tidak Tetap, untuk segera menaikkan upah untuk para guru Non PNS. (tentunya hanya di kota Kupang).
Sebagai seorang honorer, saya turut bangga dengan apa yang dijanjikan oleh orang nomor satu di Kota Kupang ini. Semoga saja, apa yang disampaikan Wali Kota beberapa waktu lalu ini segera direalisasikan, sehingga paling tidak dapat menghapus stigma negatif yang telanjur ada di mata masyarakat bahwa guru yang belum “diangkat” itu apa ya..
ahhhh.pokoknya ada semacam diskriminasi khusus dan hanya bisa dirasakan oleh para guru yang belum “diangkat” ini. Bahwa antara honorer dan PNS itu ada kesenjangan tersendiri (semoga saja ini hanya saya yang merasakannya) he he he….

Saya lantas membuka laptop dan mencari beberapa bahan tambahan untuk bisa menuliskan ini.

Oemar Bakri Jaman Now.

Istilah Oemar Bakri, semua tahu kan? Sebuah judul lagu milik musisi tanah air, Iwan Fals dengan lirik-liriknya yang mengisahkan tentang guru jaman dahulu.  Kalau anda belum sempat mendengar lagu itu, segera isi pulsa paket, dan search di youtube…:D

Jaman Now?

Saya sendiri baru mendengar istilah itu setelah pelantikan Gubernur DKI kemarin, kala itu ada warganet yang memosting foto gaya culun Wagub DKI Terpilih, Bapak Sandiaga Uno, yang berpose gaya itik saat berpakaian dinas, foto itu diberi caption “Gaberner Jaman Now” And than i know…what is the meaning of jaman now! = Jaman Sekarang. 

Kembali ke pokok pembahasan.

Bahwasannya, segala sesuatu yang terjadi di sekolah tidak berjalan begitu saja. Dalam dunia pendidikan, ada elemen-elemen yang saling berkaitan, saling bekerja sama demi tercapainya cita-cita mulia pendidikan. Mula-mula cita-cita secara individu setiap peserta didik, dan kemudian berkesinambungan menjadi cita-cita sekolah, dan berjenjang hingga nantinya menjadi cita-cita nasional bangsa dan negara tercinta kita Indonesia.

Ada Siswa, Orang Tua, Guru, Pemerintah, apa lagi! silahkan ditambahkan.

Dari sekian elemen yang saling berkaitan di dalam sistem pendidikan, setiap elemen akan memainkan peranannya.

Guru dalam tugasnya, secara garis besar adalah menjadi pengajar.
Bila kita melihat Asas Guru yang dirumuskan Bapak Pendidikan, Ki Hajar Dewantara,
Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Cukup jelas digambarkan apa peran guru dalam dunia pendidikan.

Keberadaan guru di sekolah tidak serta merta, semua guru adalah guru. Ada semacam klasifikasi khusus dalam dunia pendidikan (paling tidak dalam daftar hadir, tentu dipisah, Guru Tetap dan Guru Tidak Tetap). Ada yang disebut Guru Pegawai Negeri Sipil (Guru PNS), Guru Tetap Yayasan (GTY), Guru Kontrak (pemerintah & yayasan), dan Guru Honor (ada Honor Komite, dan Honor Sekolah).

Pengelompokkan yang tak diatur dalam undang-undang ini, secara kasat mata tak ada pengaruhnya. Apalagi di mata masyarakat yang tidak pernah berurusan dengan dunia pendidikan. Pokoknya mereka hanya tahu, Guru itu pengajar!

Sebenarnya saya mau katakan bahwa pengelompokkan guru yang saya sebutkan di atas, itu sesuai dengan upah yang didapat. Guru PNS, kita tahu yang namanya Aparatur Sipil Negara tentu kesejahteraan cukup terjamin. Guru Tetap Yayasan dan Guru Kontrak, lalu Guru Honor?.

Istilah guru honor ini saya sendiri belum tahu jelas bahwa sejarahnya bagaimana sampai harus disebut Guru Honor!

Guru, dalam Undang-undang tentang guru, hanya menyebutkan dua jenis guru. Guru Tetap dan Guru tidak tetap. Semua yang mengajar adalah Guru. Tidak Semua Guru Adalah PNS, Sebagian Guru adalah Guru Honor (silahkan menarik kesimpulan dengan menggunakan rumus logika matematika….ahahahah)
Okelah yang bisa merasakkan tentang kesejahteraan hanya mereka-mereka yang menjadi guru honor (termasuk saya).

Bahwa ada kecenderungan untuk menunaikan kewajiban secara maksimal oleh para guru (honorer) ini, namun kesejahteraan selalu tidak menjadi tujuan dari pada pengabdian mereka. Namun, mestikah kita senantiasa mengatakan bahwa itu deritamu? atau orang Timor bilang nane ho derita (NHD) = Itu Deritamu wahai guru honor?

Mula-mula, mengabdikan diri untuk mendapatkan atau mengoleksi Surat Keputusan yang nantinya menjadi salah satu syarat bila nanti ada kebijakkan politik yang memihak pada keberadaan Guru yang belum diangkat (diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara) ini. Waktu terus berputar, satu, dua, tiga empat dan seterusnya sampai belasan tahun bahkan puluhan tahun. Tetap, ada sebagian yang masih berstatus Guru Tidak Tetap, karena kebijakan masih belum berpihak pada Guru (honor)
…..lalu….dalam rentang waktu tersebut kita terus bekerja tanpa pamrih? ini bekerja atau dikerjain? kata Pengusaha Ulung, Bob Sadno begitu! he he he
(Catatan : disini saya tidak sedang menyuarakan untuk pengangkatan honorer menjadi PNS..hhhhh)

adilkah?

Adil tidak adil, itu urusan belakangan.
Yang menjadi kekhawatiran adalah bagaimana kita bisa menghasilkan generasi penerus bangsa bila dalam proses mempersiapkan masih ada elemen yang diabaikan?  Logikanya, sebuah kendaraan yang tak pernah diurusi harus dipacu kencang untuk mengikuti balapan?

Memang mereka yang mengabdikan diri dengan upah per triwulan itu tak pernah mengharapkan lebih ? (semoga demikian), saya sangsi dengan hal ini. Kebutuhan hidup di jaman modern ini, tentu membutuhkan ongkos yang tidak sedikit……….

Kita telanjur membuat pendidikan menjadi murahan! Pemerintah telah menggratiskan pendidikan lewat kucuran dana (Biaya Operasional Sekolah). Penggratisan ini cenderung menjatuhkan derajat pendidikan. Sekolah Gratis….untuk mereka yang tidak mampu. Itu ada benarnya.
Yang Gratis itu Berkualitas?
Jawab sendiri!

Siapa Salah?

Tidak untuk saling mempersalahkan. Jangan bilang salah ibu mengandung. ! Ini persoalan kita bersama. Demi Indonesia, marilah kita bergandengan tangan. Berkarya sesuai dengan talenta yang telah dianugerahkan oleh Yang Maha Kuasa. Demi Keutuhan bangsa ini, agar terus mewariskan Negara Kesatuan Republik Indonesia hingga geresai-generasi mendatang.

Hanya lewat pendidikan, kita mampu mengarahkan generasi kita untuk dapat bersaing dan mampu diandalkan di masa mendatang.

Mengabdilah sampai anda lupa bahwa anda sedang mengabdi, dan hingga pengabdianmu itu tidak sia-sia!

Guru Honorer, Oemar Bakri Jaman Now! hhhh……

KOMENTAR ANDA

0 komentar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini