Beranda ARTIKEL BERITA Berakhirkah Kisah di Pintu Masa? | Heronimus Bani

Berakhirkah Kisah di Pintu Masa? | Heronimus Bani

0
Berakhirkah Kisah di Pintu Masa?

Heronimus Bani


Bila seseorang membuka pintu, seorang yang sama atau yang lain akan
menutupnya. Bila seseorang membuka seremoni suatu acara, seseorang yang
sama atau orang berbeda akan menutupnya. Bila seseorang melahirkan anak,
seseorang yang lain pun melahirkan anak, tetapi tidak sudi menutup mata
anak itu dengan mencekiknya. Hanya begundal pecundang yang menutup dan
mengatupkan mata insan dengan kematian tak wajar. Sementara waktu dan masa
menyaksikan dan mencatatkan semua itu di lembaran masanya, dan bercerita
pada insan sekitarnya bahwa ada kehidupan, ada kesengsaraan, ada
kesenangan, ada kemalangan, ada kemujuran, ada kemanjuran hidup, ada nasib
buruk, dan berbagai ke-ADA-an yang berlangsung di dalam dan sekitar makhluk
sempurna ciptaan sang Khalik. Makhluk itu pengisi ruang dan waktu. Makhluk
itu dijejeri beragam potret dari keagungan sampai cebong dan kampret.
Aku, duduk dan berdiri, berada di dalam segala situasi mereka. Mereka
menyadari ADA-nya aku. Bila kesadaran datang pada mereka, maka aku
dikejar-kejar. Kata dan ungkapan pada mereka adalah, “mengejar waktu”.
Padahal, aku bila diandaikan berjalan, setapak demi setapak aku harus
mengangkat langkah. Bila aku disamakan dengan pendayung kano, setiap ayunan
dayung mesti berakhir sebelum kudayungkan berikutnya. Namun, sering sekali
mereka berleha-leha dan berkata, masih ada hari esok, atau nanti sajalah…
.
Aku, menyebut diriku masa. Aku ada sepanjang masa. Makhluk-makhluk ciptaan
sang Khalik akan berakhir, bahkan malak pun dapat saja berakhir. Aku dan
sang Khalik pasti tetap ada. Aku membuka pintu masa. Makhluk berakhlak
mulia menyebutkannya, hari baru, minggu baru, bulan baru dan tahun baru.
Aku menutup masa. Makhluk bermoral dan beretika, menamakannya, hari
terakhir, minggu terakhir, bulan berlalu, dan tahun lalu nan lampau. Mereka
tanpa malu mempecundangi masa dengan kecurangan dan persundalan. Walau ada
di antaranya menjunjung masa dengan kualitas tak terkira yang kucatat
dengan tinta emas.
Sementara kaum berTuhan mengimplementasikan dogma dan aqidah. Mereka
membaca kitab sucinya sendiri dan kitab suci kaum berbeda. Lalu saling
meneriakkan ke-Tuhan-an si nabi dan nabiah yang tak terkira kemudian
memandang sinis si nabi dan nabiah lainnya yang disangkanya terkurung dalam
kerangkeng malu.
Kaum selebrian menjunjung tinggi glamournya hidup. Siapa dapat menahan
kemewahannya? Bergaya layaknya borjuis modern lalu memaerkan hedonisme di
tengah himpitan bencana dan kemalangan kaum dalam hitungan berkali dan
bertalu-talu di negeri beribu nusa. Bila muncul sebagai dermawan, ia
didampingi pewarta dan perekam bayangan agar namanya semakin melambung di
spanduk, dinding dan layar monitor.
Kaum papa/mamalele berteriak minta harga diturunkan sementara kaum tani
minta hargai dinaikkan dan nelayan minta be be em jika perlu digratiskan.
Lalu mereka sendiri terjebak dalam teriak minta tolong itu, karena
kebijksanaan para pembijak berada di awan tak terjangkau. Bila mereka turun
laksana kabut terlihat, namun siapa yang menangkapnya.
Kaum guru layaknya buruh di pelabuhan memikul barang dari kapal barang
belelah hingga bahu hitam legam. Padahal, guru bukanlah buruh. Mereka
menyandang gelar pembuka jendela dunia lewat literasi sederhana ini budi, nina main sikadoda, dan lahirlah guru-guru besar yang
mencemooh gurunya sendiri di tataran dan jenjang sebelumnya.
Kaum birokrat membuka waktu kerja dan menutup masa karya dengan lima hari
kerja sambil meneriakkan kinerja. Lalu, bila ditelusuri dan diteliti apalah
arti kinerja bila tunggakan tugas terbawa sampai masa akhir kututup dan
kubukakan pintu masa yang baru. Hahaha…
Kaum teknokrat menganalisis teknis hingga sedetil mungkin, lalu datanglah
tsunami menutup detil-detil itu dan menghasilkan kecemasan baru.
Konglomerat muncul sebagai sosialita baik di dunia maya hingga kopidarat.
Ketika tiba di arena derma, datanglah kaum melarat dari kolong-kolong
kemelaratan, membawa tangan tertadahkan hingga terinjak bersama kupon
pembagian sembako. Atas dalil kedermawanan lahirlah politisi baru di
panggung keceriaan semu.
Kaum mistisis menggaungkan kuasa dan daya metafisis di tengah-tengah logika
dan esensi ilmu pengetahuan yang sistematis. Mereka mengayunkan langkah
ringan dalam praktik juru kunci di ruang kegelisahan umat yang meyakini
adanya Tuhan Yang Maha Esa.
Oh…
Dunia memang sering dan selalu mempunyai sejuta alasan dan dalil pembenaran
bila hendak keluar dari himpitan dan jepitan problematika. Romantismenya
berlanjut dalam kenangan ketika memulai masa dan waktu yang baru nanti.
Mereka akan berkata, waktu itu… atau berbahasa Melayu
Kupang untuk saling tuding, gara-gara lu itu waktu … padahal
waktu telah usai dan berlalu, tinggal kenangan dan genangan masalah yang
mesti dibenahi pada hari ini, besok dan esok nanti.
Ayo…
Mari bersama menutup pintu masa dua ribu delapan belas. Aku tidak akan
berkisah banyak tentang siapa, apa dan bagimana. Aku pun tidak hendak
menggores luka di badan apalagi menorehkan tinta hitam penanda di hati
setiap insan yang diproklamasikan sebagai makhluk mulia nan sempurna.
Selamat jalan tahun 2018. Selamat datang tahun 2019.
Kab.Kupang, Akhir Desember 2018
Heronimus Bani (Roni Bani) Seorang Guru Daerah Terpencil di Desa Nekmese, Amarasi Selatan, Kab. Kupang – NTT, Aktif menulis buku, artikel, puisi di media masa (cetak dan daring).

KOMENTAR ANDA

0 komentar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini