KEBUDAYAAN

Analisis Makna Tuturan Lisan Natoni Masyarakat Dawan | Bagian 1

Margarita D.I Ottu, S.Pd
Guru Bahasa Inggris SMPN 2 SoE **

Natoni adalah tuturan lisan yang diungkapkan dalam bentuk pantun tardisional (adat) dan dituturkan oleh sekelompok orang yakni kelompok atonis (pemandu) dan kelompok atutas (pendukung).

Bahasa Natoni adalah bahasa sakral yang bermakna yang mencerminkan ketulusan dan keramahan masyarakat dawan (Atoin Meto).  Atonis dan Atutas memiliki fungsi dan peran yang berbeda.

Atonis adalah pemandu atau penutur utama yang akan mengucapkan tuturan tersebut dan Atonis terdiri dari satu orang sedangkan Atutas adalah sekelompok orang yang jumlahnya lebih dari satu orang berperan untuk menyambung atau melengkapi tuturan dari seorang Atonis.

Atonis akan menuturkan kalimat demi kalimat namun kalimat yang dituturkan adalah kalimat yang tidak lengkap, artinya bahwa kata terakhir dari kalimat tuturan tersebut akan di penggal dan diakhiri dengan sebuah suku kata yaitu ne sebagai  tanda  atau jedah kepada atutas untuk melengkapi tuturan tersebut.

Natoni dilantunkan secara bersahutan oleh atonis dan atutas. Ciri khas atonis dalam melantunkan tuturan biasanya dengan tempo cepat dan penuh semangat serta intonasi yang meyakinkan.

BACA JUGA :   Spiritualitas Belas Kasih dalam Lingkungan Pedesaan

Pada umumnya tuturan Natoni penyambutan tamu dipahami sebagai salah satu ungkapan pesan yang dinyatakan dalam bentuk tuturan secara lisan dalam bentuk kata, frasa, dan kalimat memiliki fungsi tertentu dan makna budaya dalam tuturan Natoni tersebut.

Penggunaan bahasa dalam tuturan Natoni memiliki ciri khas tersendiri karena berbeda dengan bahasa sehari – hari, baik gaya bahasanya, struktur bahasa, pilihan kata dan kalimat, maupun konteks penuturannya.

Bahasa Natoni juga memiliki keunikan tersendiri karena bahasa yang digunakan adalah bahasa Dawan yang terbilang lebih halus dan santun.

Makna sebuah tuturan Natoni tidak hanya terletak pada kata-kata dalam bentuk pantun yang dituturkan tetapi juga pada irama suara yang membuktikan kesungguhan, semangat, harapan dan kesepakatan yang dipadu dalam warna suara yang dilantunkan dalam tuturan tersebut dengan intonasi tinggi dan rendah secara silih berganti. 

BACA JUGA :   Tradisi Nikah Adat & Nikah Gereja Pada Masyarakat Rote

Tuturan Natoni  yang diucapkan biasanya disesuaikan dengan kondisi atau suatu acara tertentu.

Jenis – Jenis Natoni

  • Natoni Penyambutan Tamu

Natoni ini dilakukan pada saat menyambut tamu yang datang pada acara tertentu. Natoni penerimaan tamu dibagi dalam tiga (3) tahap, yaitu :

  • “Sium kap ma fleu” yaitu Natoni yang dituturkan sebagai wujud  ucapan selamat datang dan dilaksanakan di depan gerbang atau suatu tempat sebelum tamu tersebut memasuki tempat yang telah disediakan.
  • “Sium Usif hen tunon” yaitu Natoni yang dituturkan sebagai pengantar atau bentuk permohonan kepada tamu atau undangan untuk menempati tempat yang telah disediakan
  • “Terimahkasih neu Usif” yaitu Natoni yang dituturkan sebagai wujud ungkapan terimaksih atas kunjungan tersebut dan ucapan selamat jalan kepada tamu tersebut.
  • Natoni upacara pernikahan tradisional

Natoni tersebut dituturkan pada saat acara pernikahan tradisional dan Natoni tersebut dibagai dalam dua (2) tahap, yaitu:

  • Natoni dari pihak laki–laki
  • Natoni dari pihak perempuan
  • Natoni pada saat panen
BACA JUGA :   Kisah Berakhirnya Kekuasaan Raja Sonbai Kedelapan

Natoni ini berlangsung pada saat melakukan panen dan Natoni tersebut dibagi dalam tiga (3) tahap, yaitu:

  • Natoni penerimaan kepada masyarakat yang mengikuti acara panen tersebut
  • Natoni yang dituturkan sebagai wujud ucapan terimakasih kepada Sang Pencipta
  • Natoni yang dituturkan sebagai wujud ucapan terimakasih kepada masyarakat yang telah melakukan acara panen tersebut.

Margarita D. I. Ottu, S.Pd lahir di Putun, 27 Maret 1983 adalah alumnus Universitas Nusa Cendana Kupang FKIP, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Tahun 2006. Sejak Oktober 2006 menjadi guru di SMP Negeri 2 SoE. Pada tahun 2013 menjadi staf pengajar tidak tetap di Sekolah Tinggi Agama Kristen Arastamar (STAKAS) SoE. Penulis mengajar Bahasa Inggris dan mata kuliah umum lainnya. Tahun 2015 lulus S2 Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta.

KOMENTAR ANDA

komentar

Tags
Baca Selengkapnya

Related Articles

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Nonaktifkan Javascript Anti Iklan Anda :)
%d bloggers like this: