Beranda ARTIKEL BERITA Aku adalah Masa dan Waktu | Puisi Heronimus Bani

Aku adalah Masa dan Waktu | Puisi Heronimus Bani

1
Aku adalah Masa dan Waktu
Oleh: Heronimus Bani

Namaku masa,
Lainnya menyebutkan namaku, waktu.
Di lain ruang mereka memanggilku, oras.
Di negeri jauh mereka mencercaku dengan nama, time.
Lalu, sejumlah nama padaku menurut bahasa manusia.
Oh…. 
Betapa aku diperkaya dalam bahasa mereka.
Lalu memujaku ketika aku membuka pintu masa baru.
Mereka menyebutkannya Tahun Baru.
Lalu menangisi kepergianku yang berlalu,
Ketika aku menutup pintu masa.
Mereka meratapiku dalam satuan Tutup Tahun.
Aku tidak bergembira dan berpesta riang ketika membuka pintu masa.
Aku tidak menangis dan meratap karena menutup pintu waktu.
Aku melihat dan merasakan seluruh hal yang dilakukan insan dalam rentang waktu. 
Rentang dan bentangan itu ada dalam kesempatan,
Limitnya disebutkan dalam sekon, detik, menit dan jam.
Hitungannya dalam satuan harian, mingguan, bulanan, dan tahunan.
Lalu tiba pada zaman dimana orang menggaungkan era, era baru, new era.
Dalam rentangan dan bentangan nama apapun,
Aku melihat mereka berlelah-lelah dan berleha-leha.
Memarang pepohonan, menumbangkan tetumbuhan dan tanaman.
Menggarong isi karung dan kantong, bahkan kantong persembahan pun digarong.
Menggali dan mencungkil tanah yang darinya mereka dibentuk tubuh dan raganya.
Lalu tanpa malu membuatnya botak dan gundul tanpa pepohonan dan tetumbuhan. 
Ketika itu mereka saling berperkara pada lahan gundul calon bencana. 
Lalu sang lahan membuka mulutnya dan menelan mereka dalam ukuran dua kali satu meter persegi. 
Mengail rezeki di banyak tempat, 
hingga mengail dan mengais rezeki di pintu dan di dalam rumah ibadah. 
Memancing di danau, menjala di pantai dan laut lepas,
sambil membuang sampah dan hajat busuk. 
Lalu bila mereka ingat untuk memancing dan menjala ikan buat Tuhannya, 
mereka mendikte dan mendata. 
Mereka mendiktekan Firman Tuhan, 
dan Pendiktenya pergi, lalu meminta Tuhan bekerja untuk pendengarnya. 
Pendiktenya beralih fungsi menjadi Pendata. 
Mereka mendata dalam catatan grafik beragam model, 
diujungnya ada perselisihan yang memisahkan. 
Lalu memproklamasikan diri 
sebagai umat baru yang saling mencerca sambil memuji Tuhan.
Dalam limit satuan jarum pendek dan panjang, 
mereka berkejaran bila bernilai ekonomis yang menguntungkan.
Bila merugikan mereka saling membusukkan 
hingga berbuah keburukan saudara sendiri. 
Dalam hitung satuan harian apalagi tahunan, 
mereka berlambat-lambat dengan kata-kata masih ada hari esok. 
Bila  tersisa menit-menit terakhir mereka gugup dan stres. 
Sikap dan tindakan stressing dan pemaksaan dilakukan, 
Padahal mereka berleha-leha dalam bungkusanku, 
bukan berlelah-lelah agar berkeringat di pangkuanku.
Ketika mereka sakit, mereka berleha-leha dengan sikap curiga. 
Lalu mencari kambing hitam atas penyakit yang diderita. 
Lalu menggunakan pendekatan kahe’ dan puran sumbur 
dari semburan bibir bercela yang dipakai mengumpat  makhluk, 
malak dan khalik. 
Menghadap pelihat dan pendo’a berjimat,
lalu larilah mereka terbirit-birit padaTuhan. 
Tuhan pun tersenyum atas kebodohan mereka. 
Berhubung saatnya tiba untuk seseorang kembali keharibaan-Nya.
Mereka menangis dan meratap? 
Ya! Mereka menangisi ketelanjuran mengurus penyakit 
tanpa mau terkuras dompetnya. 
Mereka meratapi kebodohan diri 
karena terlambat pergi kefasilitas yang disediakan Tuhan 
hamba-hambaNya di dunia pemerintahan. 
Mereka lebih percaya pada takhyul dari pada pengetahuan dari Sumber Hikmat. 
Mereka lebih percaya pada keallahan insan pelihat  
dari pada pada Tuhan yang melihat dengan ketajaman mata 
lebih dari pada jarum tangan di tangan ibu sekalipun. 
Ia menusuk sampai kedalaman hati, 
yang mampu mencungkil dan mengangkat lepas segala beban, 
termasuk penyakit di dalamnya.
Ketika akhi masa tiba, mereka duduk mengelilingi meja makan. 
Mereka menghitung perlengkapan makan, 
berkurang satu, berkurang dua. 
Lalu tangis pun meledak, makan pun tersedak dan tewaslah seorang di antara mereka.
Berkurang pula satu disana.
Tangis dan ratap diarahkan pada Tuhan. 
Tuhan dipersalahkan. “Tuhan, mengapa Kau panggil orang yang kami kasihi?”
Aku, masa dan waktu, 
Aku melihat dan merasakan 
ketika mereka harus memberi pada Tuhan yang mengatasiku. 
Tuhan yang menciptakanku ini mengatasi ruang dan waktu. 
Di dalam ruang makhluk insan berleha-leha dalam kegerahan nada minor.
Di dalam masa dan waktu makhluk manusia berlelah-lelah 
sambil bercanda dalam nyanyian rindu. 
Lalu tiba di tangan setumpuk uang, mas dan berlian. 
Bingung member perpuluhan karena satu diantara sepuluh. 
Mereka minta Tuhan jangan marah, 
“Tuhan, uangku terlalu banyak, sangat saying kalau aku member 10% pada-MU!” 
Tuhan tersenyum saja, ketika mereka membawa yang lusuh 
disiram comberan ikan dari pasar.
Ia memakai jari telunjuk-Nya menahan angin dan hujan.
Lalu berteriaklah makhluk manusia kikir dan pelit.
Panas!….Ketika panas menyengat badan. 
Tuhan pun mengangkat jari-Nya dan menghalau awan mendekat. 
Hujan!….ketika hujan tiba. 
KetikaTuhan mengaturnya antara panas dan hujan, 
Mereka pun mencerca Tuhan dengan pertanyaankejengkelan. 
Tahun berlalu, era dan zaman baru tiba. 
Siapa mempunyai mata penembus waktu, 
melihat keceriaan dan candu masa depan.
Siapa mempunyai telinga pelintas masa, 
mendengar merdunya lagu eligi hari esok. 
Siapa berperasaan yang intuitif melanglang di ruang dan peluang zaman baru. 
Bersama keluarga, bersama saudara seiman,
bersekutu dengan suku dan bangsa, berkeluarga di dalam Tuhan yang sama.
Puisi Akhir Tahun oleh Heronimus Bani

KOMENTAR ANDA

0 komentar

1 KOMENTAR

  1. Puisimu “Aku adalah Masa dan Waktu”

    lukisan kata menyentuh kalbu
    kubaca sambil kutarikan jari-jariku
    berjalan di atas tombol laptopku
    terbersit dalam benak arti kata masa dan waktu
    yang pasti akan tetap berlalu
    kau ukirkan kata masa dan waktu
    ntuk menggugah hati dan pikiranku
    menyuarakan suara nan merdu
    ntuk berucap salam rindu
    puisimu sungguhlah penyemangatku
    ntuk dapat meniru
    jejak langkah dan cita muliamu
    yang tak musna digilas masa dan waktu

    maaf terucap beribu-ribu
    aku yang berceloteh tak menentu
    dari Solo salamku menderu
    ntuk sahabatku di NTT yang kurindu

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini