Beranda ARTIKEL BERITA Agama-agama dan Kekeringan di Pulau Timor

Agama-agama dan Kekeringan di Pulau Timor

0
*Oleh : Rd. Drs. ANSEL  LEU, Lic.Theol.

Makalah ini Dibawakan dalam Lokakarya Teologi Inklusif di Kab. TTU

1.    Latar Belakang

Pah Timor atau “pah Meto”  berarti “Tanah Kering”. Pah Meto dihuni oleh ‘Atoin Meto” atau orang Timor. 

Demikian nama ini diberikan berdasarkan ciri fisiknya secara kasat mata untuk Pulau Timor.

Dalam kenyataan pemberian nama-nama tempat oleh para leluhur, sesungguhnya Pulau Timor bukan tanah yang kering atau yang  sulit sekali ditemukan sumber air. Di mana-mana nama-nama kampung menceriterakan   bahwa  di Pulau Timor   ditemukan sumber air  di mana-mana.

Misalnya, di sekitar daerah Timor Tengah Utara ada kampung Oeluan, Oemeu, Oenaitep, Oenenu, Oelolok, Oeekam, Oenaek, Oekakto, Oepunas, Oe’o, Oenopu, Oeleu, Oenunhala, Oeliurai, Oenoah, Oeana, Oemat’ina. Oepopon, Oepnio, Oepaha, Oeana, Oemanikin, Oepuah dll. 

Nama-nama tempat ini mengindikasikan bahwa di tempat-tempat ini berlimpah sumber-sumber air hidup pada masa lampau dan bahkan masih ada hingga hari ini.

Selain itu hampir semua suku besar dan kecil di Pulau Timor memiliki Tradisi Religius dan mempunyai hubungan yang hidup dengan air dan sumber airnya.      

Setiap tahun,  pada saat musim panen kelompok suku kecil dan suku-suku besar akan membawa kurbannya ke sumber air dan bukit batunya “sin  Oela ma sin Fat’tu”.      

Masih berlaku sampai pada hari ini sering orang Timor sangat percaya bahwa ada mara bahaya  yang akan menimpa anggota keluarga atau keluarga dan bahkan sukunya apabila mereka lupa membawa kurban di “sumber air atau batu/bukit batu dari sukunya”.

Jika   hujan tidak datang pada waktunya pada musim hujan, mereka akan pergi ke sumber air sukunya untuk mempersembahkan kurban kepada leluhur atau “na’i-be’i” dan kepada “Usi Neno” untuk meminta curah hujan.

“Atoin Meto” atau Orang di Pah Meto mengenalnya dengan nama “Usi Neno” . Wujud tertinggi atau  “Usi Neno”   mendapat namanya sesuai dengan Beraneka  tugasnya seperti: ‘Uis neno, Amo’et ma Apakaet’ artinya Tuhan Allah Pencipta;

Usi Neno adalah Ahaot ma A’fatis” artinya Tuhan Pemberi makan dan pemelihara. “Uis Neno Afinit ma Anesit” artinya Tuhan Allah yang melebihi segala-galanya;

Uis Neno Akubelan” artinya  Tuhan Allah Maha Penguasa.” Usi Neno Atukus ma Anonot” artinya Tuhan Allah pengembala da pemerhati.   Atoin Meto  mengakui hubungan kosmis yang terjalin antara  Gunung batu dan sumber air.  

Dari Gunung batu tercurah air kehidupan yang menjadi sumber kehidupan. Jadi “Atoin Meto” di “Pah Meto”  percaya akan “Wujud Tertinggi” yang kemudian dinamakan “Usi Neno” di Sumber Air yang yang diperoleh dari Gunung atau bukit batu yang ditumbuhi pepohon yang rindang dan lebat.  

Maka konservasi hutan di Gunung dan bukit-bukit berbatu  dikeratkan sehingga terjamin pemeliharaannya karena di sana tempat Pemujaan kepada Uis Neno dan dari sana pula air sumber kehidupan mengalir.  

Mengapa terjadi Kekeringan di mana-mana dan bahkan sumber air yang dulunya berada di mana-mana di Pulau Timor ini tinggal sebuah nama untuk dikenang?   Dengan demikian akhirnya “Pah Timor” dikenal sebagi pah Meto yang kering kerontang?    

Apakah orang Timor “atoin meto”  menjadi sumber penyebab  utama kekeringan di Pulau Timor?   Sebelum kita saling menuding, sebaiknya kita menerima letak Geografis Pulau Timor.  

Keadaan topografinya terdiri dari padang sabana dan stepa dengan deretan bukit batu kapur di sana-sini.   Pada bulan Juni-September, berhembus angin musin dari Autralia yang tidak mengandung uap air sehingga mengakibatkan musim kemarau yang panjang.

Sebaliknya pada bulan Desember-Maret, berhembus angin dari Asia dan Samudera Pasifik ketika sampai di wilayah NTT kandungan uap airnya sudah berkurang, akibatnya hari hujan di NTT berkurang.

Keadaan ini menjadikan NTT sebagai wilayah kering dimana hanya 4 bulan (Januari sampai dengan Maret dan Desember yang keadaannya relative basah dan delapan bulan lainnya relatif kering.  

Selain keadaan Geografis ini budaya bertani  “Atoin meto” secara tradisional, yakni pola tebas bakar hutan dan semak belukar serta berpindah-pindah dan beternak secara tradisional dengan mlepaskan ternak di padang belukarpun menyebabkan kerusakan hutan.

Pola bertani dan beternak seperti ini memperbesar jumlah lahan kritis.   Dengan kondisi bekal ilmu dan teknologi yang minim, warga petani dan peternak tradisional rentan terhadap berbagai perubahan.    

Sebuah analisis yang pernah dilakukan mengenai dampak globalisan menunjukaan bahwa perubahan ekologis, perubahan ekonomi dan perdagangan, serta perubahan sosial mengakibatkan kualitas agro ekosisten menurun, lahan pertanian makin sempit, tanah kristis, produksi  impor membanjir, jumlah tenaga kerja petani dan peternak tradisional berkurang, kerawanan pangan, gagal tanam, gagal panen, keterasingan cultural    

(Menurut data BPS, dalam kurun 2003-2013, jumlah keluarga petani berkurang 5 juta keluarga. Sensus pertanian 2013; Petani berusia diatas 45 tahun sebanyak 60,8%; dengan 73, 97% berpendidikan SD, dengan akses teknologi rendah atau bahkan tanpa teknologi).    

Maka NTT masih jauh tertinggal dari propinsi lain di Indonesia (Indeks Pembangunan NTT tahun 2016, sebagaimana dilansir oleh BPS, hanya sebesar 63,13 (tingkat ketiga terburuk di Indonesia).     Presentasi Buta Huruf sebesar  7,27 % dari total penduduk NTT tahun 2015.    

Sementara penduduk berusia 10 tahun ke atas yang tidak/belum pernah sekolah atau tidak tamat SD pada tahun 2105 menapai sepertiga penduduk NTT (30,12%).   Kekurangan air bersih  pada musim kemarau seperti saat ini menjdi masalah utama bagi “atoni meto” di “Pah meto”.    

Kegiatan di lahan pertanian terhenti. Hanya terjadi pengolahan lahan pertanian secara sporadis. Maka terjadi gerakan urbanisasi besar-besaran pada musim kemarau karena pasokan hasil pertanian tidak mencukupi kebutuhan anggota keluarga selama setahun.    

Masalah kekeringan ini menjadi salah satu penyebab kemiskinan di “Pah Meto”. Masalah kekeringan ini menjadi masalah bersama yang hendaknya dikristisi oleh semua komponen masyarakat.   Baik antara tokoh-tokoh Agama, tokoh Masyarkat, Tokoh adat serta pemerintah agar semua komponen masyarakatt di Pah Meto ini membangun jejaring untuk memberikankontribusinya untuk mengatasi kekeringan yang melanda masyarakat ‘atone Meto”.    

Kita mencari penyebabnya dan secara bersama pula kita mencarikan pemecahan masalahnya.    

2.      Dilema yang Kita Hadapi    

Suatu ketika sambil lewat sebuah kampung di Amarasi saya mencoba menghitung kira-kira berapa banyak Kios yang dibangun di sepanjang jalan.    

Belum termasuk yang berada di gang-gang kampung itu.     Kira-kira 70-an Kios yang terdata. Muncullah pertanyaan dalam benak saya,     “Siapa yang akan menjadi pembelinya jika kampung sekecil ini sudah dibangun 70-an Kios”.    

Selanjutnya saya bertanya pada diri saya sendiri, “Berapa banyak uang yang beredar di kampung ini?”.   Mungkinkah ini yang namanya kita sudah menerima pasar bebas dan usaha swasta (free market dan free enterprise).    

Jadi kita menganut ekonomi terbuka akan tetapi di lain pihak kita ingin menerapkan keadilan sosial di bidang ekononomi sebagai asas iman dan padangan hidup Pancasila.   Dalam kenyataannya kita sudah menerima dana bantuan internasinal yang jelas menganut sistem kapitalis internasional.    

Lalu bagaimana dana dari luar negeri dapat disinkronkan dengan upaya pemerataan kesejahteraan sampai ke pelosok desa-desa di “pah Meto” dan sesuai dengan asas keadilan sosial.   Dana pinjaman luar negeri bersifat pinjaman yang harus dikembalikan.    

Maka Investasi dengan sendirinya lebih dititik beratkan pada sektor industri perkotaan yang lebih cepat pertumbuhannya dari laju pertumbuhan sector pertanian di pedesaan  di  “Pah Meto”.    

Sementara itu sektor industri kita mengalami saingan berat dari produksi industri Negara maju.     Alternatifnya dipilih sektor pertanian yang memacu eksport.     Namun ini bukan pertanian rakyat.     Cara berinfestasi sedemikian mengakibatkan sektor pertanian rakay di “Pah meto” semakin ketinggalan dan ditinggalkan.    

Maka orang coba mengadu nasib dengan buka kios di mana-mana dan ditutup di mana-mana juga.   Lembaga-lembaga bank raksasa internasional yang operasinya sudah  menyerupai Goliat yang serakah, kekuatannya bukan semata-mata terletak pada monopoli keahlian tetapi lebih-lebih pada kemampuan memaksakan kebijakan ekonomi pada Negara-negara yang sedang berkembang.    

Itu artinya kita sedang memelihara kehidupan kolonialisme, atau wujud dari pejajah baru.    

3.       Akar Kesenjangan Sosial  

Setelah perang Dunia II, 44 negara Barat dipelopori oleh Amerika Serikat dan Inggris berkumpul di Breeto Woods, New Hampshire, AS.    

Tujuan pokok pertemuan tersebut adalah untuk mengendalikan perdagangan dan keuangan internasional serta melestarikan ‘pembagian kerja internasional’ antar Negara maju dan Negara miskin, namun pada waktu dibahasakan dengan Negara yang sedang berkembang,   antara yang dulunya dijajah dan yang menjajah.

Kenyataannya kesepakatan kerjasama ini menghidupkan kembali kolonialisme dalam bentuk baru. Dulu ‘penjajah dan yang dijajah’ sekarang ‘negara maju dan Negara yang sedang berkembang atau kasarnya Negara miskin”.    

Eksploitasinya di bidang ekonomi, kebudayaan, bahkan tidak mustahi di bidang politik.     Transaksi perdagangan yang tidak seimbang dibuat antara produk-produk industri Negara maju dengan produk bahan mentah Negara-negara yang sedang berkembang.    

Maka mereka membangun perangkat mekanisme ini dengan tiga hal yakni Bank Dunia, IMF (Intenasional Monetary Fund dan GAATT (General Agreement on Tatiffs and Trade).     Ketiga perangkat ini dipakai untuk mengatur pinjaman modal Internasional ke Negara-negara yang sedang berkembang, dengan proteksionalisme untuk indutri-industri mereka.  Jadi sistem tersebut ternyata dapat berjalan lancar.    

Kepentingan Bisnis besar blok trilateral, Amerika Utara, Eropa barat dan Jepang berkembang denga jaya.     Tiga Tri-lateral ini selanjutnya berkembang menjadi  ‘center” atau “pusat” yang mengatur gerakan ekonomi dunia.     Dampak yang muncul sebagai berikut:  

Pembebasan impor produk-produk pertanian akan menimbulkan persaingan dengan produk-produk sejenis yang sudah diproduksi dalam negeri. Misalnya Indonesia mengimport beras yang lebih berkwalitas dari jepang.

Petani yang sudah tidak mempunyai posisi  menawar (bargaining power)  tersebut masih diperlemah lagi dengan penetapan harga beras demi stabilitas nasional yang membuat nilai tukar petani padi akan semakin memburuk.

Perdagangan bidang import barang konsumsi mewah, akan membuat masnyarakat semakin diracuni oleh mental konsumerisme dengan segala akibatnya. Biaya hidup melambung tinggi, meningkatnya pendapatan tidak akan ada artinya, nilai tukar memburuk.

Manusia modern tidak lebih hanya sekadar ‘barang dagangan’ (Commodity Form of Life). Yang penting bukan pengembangan jati diri untuk semakin berkepribadian tetapi pengembangan gaya hidup yang semakin bergengsi.

Suatu ‘keterbelakangan moral’ yang hanya mengejar nilai barang, bukan nilai kepribadian. Ini berlaku umum baik di kota maupun di desa-desa di “Pah Meto”.

Hak milik intelektual menetapkan bahwa tanaman-tamanam atau binatang ternak yang mengalami rekayasa genetik diakui hak patennya. Hak milik masyarakat tradisional, yang berwujud bibit-bibit lokal sebagai hasil jerih payah masyarakat pedesaan yang dikembangkan secara alami  sejak berabad abad  lamanya tidak boleh dipatenkan.

Bibit lokal inilah yang dijadikan obyek rekayasa genetik. Apel Soe yang terkenal  tiba-tiba punah. Setelah uji coba genetik dan direkayasa maka bibit lokal dimusnahkan  sehingga hasil rekayasa mengusai pasaran. Bibit padi Lokal asal Indonesia praktis sudah punah (Dulu saya masih dapat nama padi local seperti ‘ane Oeluek’ dan ‘Ane banao’. Ketika munul bibit rekayasa “IR”.

Maka punahlah bibit padi lokal. Kwalitas dan panjang atau besarya ukuran biji padi lokan lebih besar dan panjang. Kwalitas berasnya lebih tahan lama.  Namun di bank bibit IRRI (Intenational Rice Research Institute) di Los Banos Filipina bersembunyi sekitar 8.000 (delapan ribu bibit padi local Indonesia.

Anehnya masyarakat local kita tidak merasa kecurian hak miliknya, padahal telah terjadi pembajakan jenis-jenis hayati. Siapa pembajaknya? Apakah masih ada jenis-jenis padi yang lain kecuali jenis IR (asala IRRI), hasil rekayasa genetic  yang rakus zat lemas, yang mebuat pola tanam serba seragam yang sangat riskan, yang mebuat petani di bidang sarana produksi semakin tergantung pada bibit, pupuk, pestisida; semua serba sarat agrokimia?

Meskipun Bumi mengajak masyarakat dunia melindundi dan mengembangkan aneka ragama hayati, praktek monopoli bibit semakin kuat dan pembajakan hayati semakin merajalela. Maka waspadailah rekayasa genetik. Waspadailah monopoli bibit, karena barangsiapa menguasai bibit menguasai kehidupan.

  Dalam situasi semacam itu, perdagangan bebas disertai kebebasan arus investasi modal asing menunjukkan dampak negatif bagi Indonesia.     Kekuatan ekonomi domestik secara substansiaal akan tergeser karena lebih leluasanya investasi modal asing yang mengalir ke seluruh sector perekonomian.    

Rakyat Indonesia khususnya ‘Atoin meto’  memasuki fase keteragantungan  yang lebih dasyat pada pihak asing juga akan kembali secara sitematis menempati posisi budak di dalam negeri sendiri.    

Sebuh bentuk penajajah baru semakin menjadi nyata. (Sritua, “Globalisasi dan Kita”, Majalah Refleksi, 01/XIX/Maret/ 1996, halaman 8).   Paus Yohanes XXIII dalam Ensiklik  Mater et Magistra (tahun 1961. No. 171-172) jauh-jauh hari sudah mengingatkan bahaya Neokolonialisme.     Dalam Konferensi Asia-Afrika Bandung (1955), Bung Karno sudah melihat gejala itu pula.

Dom Helder Cama melihat situasi dunia modern tidak hanya dikuasai oleh para penyelenggara Negara tetapi  tetapi juga oleh kekuatan-kekuatan ekonomi raksasa.     Mereka adalah Goliat-goliat internasional yang menjadi manager-manager dunia.    

Setiap orang beriman perlu waspada, meneliti struktur-struktur kekuasaan di sekitarnya dari tingkat desa di “Pah Meto”  sampai tingkat global, Daud-daud perlu bersatu menjalin jaringan setia kawan demi pemberdayaannya.     Dalam gerak lokalnya (act localy) didasari cara pandang global (think globally).    

4. Mencari Gaya Hidup yang Melestarikan Lingkungan              

Manusia memerlukan penghayatan iman yang berlandaskan kesucian seluruh alam semesta. Iman yang demikian itu memang bukan buatan atau ciptaan manusia karena iman yang sejati selalu berasal dari ‘yang mutlak”. Bahasa atoin meto “Usi Neno, Afinit ma Anesit”. Atau “Uis Neno Akubelan”. Tuhan selalu membiarkan dirinya untuk kita alami dan kita imani karena Tuhan adalah Tuhan beserta kita. Sebenarnya kalau kita benar-benar mendalami keimanan agama-agama yang ada di dunia ini, baik Yahudi, Kristen, Islam, Hindu, Budha, Tao-Confusius maupun agama-agama asli, maka kita akan menemukan pengakuan dan peneguhan bahwa seluruh alam semesta merupakan pewahyuan Sang Pencipta yang selalu mencipta dan bersabda dan tiada sesuatu yang tidak diciptakan sang sang Sabda. Dengan demikian kehadiran sang Emmanuel, Tuhan beserta kita sungguh nyata  terasa baik dalam konteks pribadi, sosial maupun kosmik. Ini bukan pandangan panteisme, yang menyadari bahwa ‘Tuhan ada di dalam semua’ dan semua ada di dalam Tuhan.      

KESIMPULAN

Akhirnya kita menyadari bahwa Planet Biru, Planet air diciptakan Tuhan sangat baik adanya.     Namun Ciptaan luhur yakni manusia khususnya leluhur “Atoni Meto” yang memelihara hubungan religus dengan alam dan “Usi neno” di sumber air,   gunung batu dan   hutan, menggambarkan relasi timbal balik yang hidup antara “Atoin Meto” dengan alam dan ‘Allah”.

Mengapa terjadi Pemusnahan hutan yang mengakibatkan kekeringan di mana-mana di “Pah Meto”?.     Salah satu penyebabnya adalah   “Atoin Meto”, namun   Kebijakan Negara-negara kaya yang tampil sebagai “Goliat” mencekam rakya pedesaan sebagai “Daud” yang tidak dapat berdaya juga menjadi faktor penyebabnya.    

Namun percayalah Goliat mati di tangan Daud karena campur tangan Tuhan.   Kita juga menyadari bahwa  penghayatan Spiritualitas Belas Kasih dalam pembangunan pedesaan yang diperjuangkan oleh kelompok-kelompok Tani-Nelayan bukan berjuang sendirian.    

Deklarasi Den Bosch (1991) dan KTT Bumi di Rio Jeneiro (1992) yang mengajak membangun pertanian dan pedesaan lestari denga pola produksi dan konsumsi lestari.    

Dukungan moral muncul dari gerakan perlindungan dan pengembangan aneka ragama sumber hayati, yang kesemuanya itu bertujuan untuk menyelamatkan bumi serta  seluruh manudia dan ciptaan Tuhan yang hidup di bumi ini.  

Garis Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1993  sangat menandaskan agar sumber alam dan lingkungan hidup dikelola dengan memperhatikan keseimbangan lingkungan serta kelestariannya, demi kesejahteraan rakya dan generasi yang mendatang (GBHN, BAB IV, 6).    

Kita mempunyai dasar kemauan politik kuat meskipun pelaksanaanya masih lemah sekali.   Kendala pokok ialah sering terjadi benturan antara kebijakan dan kenyataan: antara tuntutan ekonomi dan moral; antara ideology pertumbuhan ekonomi dengan spiritualitas belaskasih yang dihayati dalam pembangunan lestari; antara bisnis petrokimia dan bibit yang mau menguasai, dengan pembangunan pertanian dan pedesaan lestari yang berasas mandiri dan swadaya masyarakat.    

Kesadaran bahwa kita hidup dalam “satu komunitas kampong besar” (global village) yang mau tak mau harus saling bergotong royong karena saling ketergantungan menodorong adanya ordo ekonomi  dan sosial yang perlu ditumbuhkan.    

Ordo sosial baru tersebut harus lahir dari situasi hidup nyata kebanyakan rakyat, baik masyarakat praindustri maupun masyarakat pascaindustri.   “Perekonomian yang disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaa” (UUD 45, pasal 33) apabila sungguh-sungguh dikembangkan secara tradisional merupakan dasar ekonomi interdependen mondial yang sehat.    

Interdependensi adalah kuninya bukan independensi.     Dalam arti yang positif, kita, seluruh umat manusia akan semakin menyadari bahwa kita dengan seluruh cimptaan Tuhan sama-sama, sebagaimana dalam ungkapan Anton Weber, “the eart is your shoe, the sky is your hat” artinya “bumi adalah sepatumu, langit adalah topimu”.    

Hikmat seperti ini menuntut keberanian untuk menghayati visi kosmik, visi kebutuhan ciptaan yang sekaligus menangkal preokupasi berlebihan pada kelompok kecil yang semakin berkembang maju menjadi adikuasa bagaikan Goliat dengan mengurbankan kelompok Daud-Daud kecil yang lebih luas dan banyak yang semakin ketinggalan.    

Segala aktivitas dan kreativitas kita tetap berada dalam aktivitas dan kreativitas Tuhan sendiri yang berbelas kasih.     Ikut menderita dengan ciptaan-Nya yang menderita, untuk pada akhirnya, melalui segala perjuangan yang harus ditepmuh, berkonselebrasi, bersama-sama merayakan kebahagiaan bersama.    

Oleh karena itu, inila tenaga dalam kita, “Hendaklah kamu berbelaskasih seperti Bapamu di surge itu berbelas kasih” (Luk 6: 36).

Sumber

1.      Arturo Paoli, Meditation on Saint Luke (Maryknoll, N.Y.,: Orbis Books, 1977.

2.      COMPASION di dalam The Encyclopedia of Jewish Religion, R.J. Zwiwerblowsky, 28 (N. Y. Holt, Rinehart and Wiston, 1965).

3.      Hermen E. Daly, Toward a Steady State Eonomy (San Francisco: W.H. Freeman &o., 1973)

4.      J.H.Boeke, Eonomi Poliies of Dual Soieties, AMS Press, Inc. New York, N.Y. 1978

5.      Jose Miranda, eksegit Amrika Latin, di dalam Marx and The Bible (Maryknoll. N.Y.: 1977).

6.      Musicus Anton Weber, dalam karya musiknya yang berjudul “Armer sunders, du” (Opus 17, Webern).

7.      Sritua Arief, “Globalisasi dan Kita”, Majalah REfleksi, 01(XIX/Maret/1996

8.      PITY”  di dalam The Universal Jewish Encyclopedia, ed. (N.Y,: KIAV Publisher, 1969.)

Watkins, K., Fixing the Rules: North Saouth Isseues in International Trade an The GATT Urugyay Round, Catholich Institute for International Relations, London, 1992.

Penulis : Imam Katolik, Pastor Paroki Sta. Helena Lili – Camplong, Kab. Kupang

KOMENTAR ANDA

0 komentar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini