Beranda KEBUDAYAAN Afiksasi Bahasa Dawan Amnuban (Afiksasi Uab Meto)

Afiksasi Bahasa Dawan Amnuban (Afiksasi Uab Meto)

0
AFIKSASI BAHASA DAWAN KHUSUSNYA
DIALEK AMANUBAN

Setiap Bahasa di dunia memiliki karakteristik sendiri – sendiri. Sama halnya dengan bahasa Meto’ (Uab Meto’) khususnya Dialek Amanuban, yaitu bahasa ibu (mother tongue) dari penulis sendiri.

Apa yang dipaparkan dalam tulisan sederhana ini adalah berdasarkan pemahaman penulis sebagai penutur asli Uab Meto’ dan didukung oleh pendapat para ahli. Oleh karena itu semua pikiran dan pendapat serta uraian dalam tulisan ini tidak dapat digeneralisasikan.
Akhirnya penulis menyadari bahwa tulisan sederhana ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kritik dan saran masih diperlukan demi perbaikan tulisan ini, terutama para pendahulu yang telah menulis tentang bahasa Meto’, khususnya Dialek Amanuban
I. Pendahuluan
Sebagai manusia kita membutuhkan bahasa untuk berkomunikasi.. Dengan bahasa kita dikenal., melalui bahasa kita mengerti. , didalam bahasa kita saling mengerti, dan dengan bahasa pula kita saling kenal.

Sejauh ini bahasa didefinisikan oleh para ahli sebagai berikut:

1. Language is a system of arbitrary, vocal symbols which permit all people in a given culture, or other people who have learned the system of that culture, to communicate or to interact (Finocchiaro 1964 : 8)
2. Language is a system of communication by sound, operating through the organs of speech and hearing, among members of a given community, and using vocal symbols possessing arbitrary conventional meanings ( Pei 1966 : 141)
3. Language is any set or system of linguistic symbols as used in a more or less uniform fashion by a number of people who are thus enabled to communicate intelligibly with one another ( Random House Dictionary of the English Language 1966 : 806)
4. Language is a system of arbitrary vocal symbols used for human communication (Wardaugh 1972 : 3)


5. Language is any means, vocal or other, of expressing or communicating feeling or thought ….. a system of conventionalized signs, especially words, or gestures having fixed meanings

( Webster’s New International Dictionary of the English Language 1934 : 1390 )

6 Language is a systematic means of communicating ideas or feelings by the use of conventionalized signs, sounds, gestures, or marks having understood meanings ( Webster’s Third New International Dictionary of the English Language 1961 : 127 )
Dari definisi di atas, kita datang pada satu kebenaran bahwa bahasa berbeda satu sama lain. Ia berbeda berdasarkan budaya yang dimiliki oleh daerah tertentu. Bahasa merupakan sistim bunyi yang memiliki arti suka – suka sesuai dengan konvensi sosial seperti yang dikatakan. Pei, (1966) yang dikutip oleh Brown (1987)
Pendapat di atas mendukung penulis bahwa semua bahasa, ternasuk bahasa Meto’, bahasa yang dituturkan oleh orang Timor, mulai dari, wilayah Timor Tengah Utara sampai wilayah Kupang. (Grimes, 2000),
Bahasa Meto’ sendiri memiliki perbedaan-perbedaan sesuai dengan suku etnis yang menuturkannya. Perbedaan-perbedaan tersebut terlihat jelas dari bagaimana mereka menuturkannya. Hal ini oleh Kushartanti dkk (2005: 234) disebut variasi bahasa yang pada umumnya disebabkan oleh faktor geografis, politik, ekonomi, dan sosial budaya.

Dalam tulisan ini penulis memilih salah satu dialek yang dituturkan oleh masyarakat disekitar daerah Amanuban -Timor Tengah Selatan. Penulis mencoba menguraikan dan memaparkan tata bentuk kata khususnya afiksasi dalam bahasa Meto’, khususnya dialek Amanuban

Afiksasi menurut Nida (1967 : 17) adalah pembentukan kata dengan menambahkan bunyi pada komponen utama atau kata dasar, baik itu di awal kata, di tengah, maupun di akhir kata.

Kata, didefinisikan oleh Hornby (1955 : 137) sebagai bunyi atau kelompok bunyi yang mengekspresikan arti dan membentuk satu unit mandiri dalam bahasa. Kata kemudian dibagi menjadi dua bagian; kata dasar yang kemudian disebut morfem bebas dan kata bentukan yang kemudian disebut morfem terikat. (Adrian, 1988 : 58)

Tarigan (1987 : 20) mendukung pendapat dari Nida (1967) di atas dengan membagi afiksasi menjadi tiga bagian, yaitu :

1. Awalan (Prefiks): Pelekatan bunyi pada awal sebuah kata dasar untuk membentuk kata baru

Contoh dalam bahasa Indonesia:
– me + nyanyi =menyanyi
– di + makan =diminum
– ber + jalan =berjalan
– ter + bawa =terbawa
– pe + ramal =peramal
– dll

2. Akhiran (Suffiks) Pelekatan bunyi di akhir dari sebuah kata dasar untuk membentuk kata baru
Contoh :
– mashur + kan =mashurkan
– peluk + an =pelukan
– ikut + i = ikuti
– derma + wan = dermawan

3. Sisipan (Infiks) : Pewnyisipan bunyi ditengah sebuah kata dasar, untuk membentuk kata baru. Namun dalam bahasa Meto’ khususnya dialek Amanuban, tidak ada sisipan (infiks

II. Afiksasi Dialek Amanuban dalam Bahasa Meto’

Bahasa Meto’ menurut Sanga dkk, yang menyebutnya bahasa Dawan (1989 : 1) berasal dari dua kata yaitu : uab yang berarti bahasa, dan meto yang artinya orang – orang yang tinggal di daratan. Jadi Bahasa Meto’ adalah sebuah bahasa yang dituturkan oleh orang – orang yang hidup di daratan dalam komunikasi mereka senari – hari, mulai dari Ambenu (Timor Leste) sampai ke Kupang. Bahasa ini terdiri dari banyak dialek. seperti sudah dikemukakan sebelumnya bahwa perbedaan tersebut dikerenakan perbedaan budaya dalam etnis yang menuturkannya
Dalam tulisan ini, penulis mencoba menguraikan dan memaparkan bagaimana kata – kata dalam dialek Amanuban dibentuk, yang disebut dengan proses afiksasi, fungsinya, yaitu apakah proses afiksasi tersebut merubah kelas kata atau tidak, dan makna yang terkandung dalam kata bentukan tersebut.

III. Jenis – Jenis Afiksasi Dalam Dialek Amanuban –Bahasa Meto’

Proses afiksasi dalam bahasa Meto’, khususnya dialek Amanuban, pada umumnya sama dengan proses afiksasi dalam bahasa lain khususnya dalam bahasa Inggris, yang pahami oleh penulis. Dalam proses afiksasi, dialek Amanuban pun mengenal dua jenis proses perubahan kata yang dipengaruhai oleh afiksasi.
Seperti yang dikemukakan oleh Mathew (1974), bahwa:

1. Afiksasi Infleksional

Penambahan morfem terikat pada bentuk dasar yang tidak mengubah kelas kata atau yang dikenal dengan infleksional.(Mathew 1974). Misalnya penambahan morfem terikat –s / – es pada kata benda untuk menunjukan jumlah lebih dari satu.

Contoh 1. : – book + s = books / buku – buku
– student + s = mahasiswa /mahasiswa-mahasiswa
– house + es = houses / rumah – rumah
– bus + es = buses / bis – bis
-dll

Morfem terikat –s/-es juga dilekatkan dibelakang kata kerja khususnya yang mengikuti subyek ketiga tunggal.

Contoh 2: – sit + s = sits / dia duduk
– eat + s = eats / dia makan
– go + es = goes / dia pergi
– study + es = studies /dia belajar
– dll

Dari contoh – contoh di atas terlihat bahwa penambahan morfem –s dan –es sama sekali tidak merubah kelas kata. Misalnya pada contoh

yang pertama, sebelum mendapatkan penambahan morfem terikat dibelakangnya, mereka adalah kata benda, dan tetap kata benda walaupun sudah mendapatkan penambahan morfem terikat di belakangnya.

Demikian puila dengan kata – kata pada contoh kedua. Bentuk dasar yang ada adalah kata kerja, dan tetap kata kerja walaupun sudah ,mendapatkan panambahan morfem terikat di belakangnya

Dalam bahasa Meto’ khususnya dialek Amanuban, proses perubahan kata jenis
infleksional
lebih banyak dipengaruhi oleh subyek yang diikutinya. Kasus ini lebih mirip kausastif. Bentuk dasar dimana morfem terikat dilekatkan pada umumnya adalah kata kerja (verba) dan kata sifat (adjektiva). Contoh – contoh berikut ini adalah pelekatan prefiks pada bentuk dasar yang dipengaruhi oleh subyek:

Dalam contoh – contoh di atas, penulis senagaja memisahkan cara penambahan afiks yang dipengaruhi oleh subyek yang diikutinya. Namun, tidak dapat dijelaskan mengapa beberapa bentuk dasar lain menggunakan bunyi yang dipengaruhi oleh subyek yang diikutinya, misalnya –u, -m, -n, -t, dan sebagian yang lain mendapatkan tekananan glottis yang memang masih dipengaruhi oleh subyek yang diikutinya

Sedangkan penambahan bunyi – s/-es dalam bahasa Inggris untuk menunjukan jumalah tidak dikenal dalam bahasa Meto’ khususnya dialek Amanuban. Untuk menunjukan jumlah dalam bahasa Meto’ khususny dialek Amanuban justru menambahkan sufiks –nu, -na, -ini.
Tabel berikut menunjukan proses distribusi penggunaan morfem – morfem terikat diatas

Perubahan dari bentuk tunggal menjadi bentuk jamak dalam dialek Amanuban juga mengalamai proses metatesis seperti yang dikatakan oleh Karus Margaretha dkk (1999:12) dalam penelitian mereka tentang Morfologi Bahasa Dawan. Perubahan tersebut terjadi bila kata nomina tunggal dijadikan nomina jamak. Hal yang sama terjadi juga pada kata nomina yang akan digabungkan dengan adjektiva. Misalnya, ume (rumah) + ana (kecil) akan menjadi uim ana
Selain itu, penambahan bunyi –b pada kata kerja yang menunjukan tindakan yang dilakukan oleh subyek yang menyebabkan orang lain mengalami keadaan yang disebabkannya Contoh – contoh dalam tabel berikut dapat menjelaskannya:

2. Afiksasi Derivasional
Penambahan morfem terikat pada bentuk dasar yangmengubah kelas kata atau yang dikenal dengan derivasional. (Mathew 1974). Proses perubahan kata pada bagian ini adalah penambahan bunyi pada bentuk dasar yang kemudian merubah kelas kata bentuk dasar tadi menjadi kelas kata lain, misalnya, bentuk dasar verbasetelah dilekati dengan bunyi atau morfem terikat tertentu, kemudian menjadi nominal, atau bentuk dasar adjektiva, setelah dilekati dengan bunyi atau morfem terikat tertentu, kemudian berubah menjadi nominal, dll
Contoh :
A. Awalan (Prefiks)
1. Awalan (Prefiks) [a]
Jenis awalan (prefiks) ini memiliki dua fungsi. Yang pertama untuk mengubah kata kerja (kk) menjadi kata benda (kb), dan yang kedua untuk mengubah kata sifat (ks) menjadi kata benda (kb)
Tabel berikut menunjukan contoh – contoh yang mendukung pernyataan tersebut :

Contoh – contoh kata bentukan dalam table di atas menunjukan bahwa kata kata bentuk dasar tidak hanya mendapatkan penambahan afiks tetapi juga sufiks yang pada dasarnya bukan disengaja, tetapi memang hal tersebut adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Mengenai sufiks akan dibahas dalam bagian lain
2. Awalan (prefiks) [ma-]
Prefiks ini {ma-}memiliki tiga fungsi. Fungsi yang pertama adalah untuk merubah kata kerja menjadi kata benda. Fungsi yang kedua adalah untuk menunjukan kepemilikan, dan fungsi yang ketiga adalah untuk menunjukan perbuatan yang sama yang dilakukan oleh lebih dari satu orang dan saling mengenai satu sama lain

Tabel berikut akan memberikan contuh – contoh prefiks {ma-} yang merubah kata kerja atau verbamenjadi kata benda atau nominal

Tabel berikut akan memberikan contuh – contoh prefiks {ma-}
yang menunjukan kepemilikan
Tabel berikut akan memberikan contuh – contoh fungsi prefiks {ma-}
yang menunjukan perbuatan yang sama yang dilakukan oleh
lebih dari satu orang dan saling mengenai satu sama lain
Tabel berikut akan memberikan contuh – contoh prefiks {ma-}
yang menunjukan pasif

2. Awalan / Prefiks {aka’}
Prefiks ini menunjukan pekerjaan yang dilakukan oleh lebih dari satu orang dan saling mengenai pekerjaan tersebut
Contoh:

Tabel berikut akan memberikan contoh – contoh prefiks {aka-}

4. Awalan / Prefiks {ha-}
Prefiks ini berfungsi untuk merubah kata sifat atau ajektiva menjadi kata kerja atau verba.
Contoh :

Tabel berikut akan memberikan contoh – contoh prefiks {ha-}

B. Akhiran / Sufiks
1. Akhiran / Sufiks {-en}
Akhiran atau sufiks ini dielkatkan pada beberapa jenis kelas kata yang pada dasarnya menunjukan ‘sudah’.
a). Bila dilekatkan pada akhir kata kerja atau verba maka akan menunjukan bahwa pekerjaan tersebut sudah berlalu / sudah dilaksanakan. Dalam bahasa Inggris pola ini dikenal dengan kata kerja bentuk kedua. Bedanya adalah dalam bahasa Meto’ khususnya dialek Amanuban, waktu tidak menjadi penekanan
Contuh:

Tabel berikut akan memberikan contoh – contoh sufiks {-en}yang berfungsi menunjukan pekerjaan yasng sudah berlalu / sudah dilakukan

b). Bila dilekatkan bersamaan dengan awalan atau prefiks ma-, maka akan menunjukan pasif dansudah berlalu / sudah dilakukan
Contoh:

Tabel berikut akan memberikan contoh – contoh sufiks {-en}
yang digabungkan dengan prefiks {ma-}

c). Bila dilekatkan di belakang kata ganti atau pronominal untuk mempertegas bahwa orang dimaksud sendirilah yang akan mengerjakan pekerjaan tersebut
Contoh:

Tabel berikut akan memberikan contoh – contoh sufiks {-en}
yang dilekatkan dibelakang kata ganti

d). Bila dilekatkan dibelakang angka untuk menunjukan bahwa penjumlahan sudah mencapai angka tersebut
Contoh:

Tabel berikut akan memberikan contoh – contoh sufiks {-en}
yang dilekatkan dibelakang angka

e). Bila dilekatkan pada kata sifat atau ajektiva, maka akan menunjukan ‘sesuatu telah berubah menjadi wujud lain
Contoh:

Tabel berikut akan memberikan contoh – contoh sufiks {-en}
yang dilekatkan dibelakang kata sifat atau ajekativa

C. Akhiran atau sufiks {-t / at} dan {-s / as}
Kedua akhiran atau sufiks ini memiliki fungsi yang sama. Itulah sebabnya dibahas dalam bagian yang sama. Proses pembentukan afiksasi jenis ini ada dua cara yaitu, penambahan sufiks {-t / -at ) dan penambahan {-s / as}. Perlu dicatat bahwa tidak ada alasan tertentu yang menjadi syarat dalam pembentukan kedua sufiks ini sebagai pembeda. Hanya penutur asli saja yang mengetahuinya. Fungsi – fungsinya adalah sbb:
a). untuk merubah kata kerja atau verbamenjadi kata benda atau nomina.
Contoh:

Tabel berikut akan memberikan contoh – contoh sufiks {-t / at}dan {-s / as}
yang berfungsi merubah kata kerja atau verba menjadi kata benda atau nomina

b). untuk merubah kata sifat atau ajektivamenjadi kata benda atau nomina
Contoh :

Tabel berikut akan memberikan contoh – contoh sufiks {-t / at}dan {-s / as}
yang berfungsi untuk merubah kata sifat atau ajektiva menjadi kata benda atau nomina

D. Akhiran atau Sufiks {-ah}
Akhiran atau sufiks ini berfungsi untuk menunjukan merubah kata kerja menjadi kata keterangan. Sufiks – ah lebih berarti ‘itu saja, tidak lebih’. Sufiks ini pun masih dipengaruhi oleh subyek, karena bentukan dengan pelekatan sufiks ini menunjukan sejauh mana sang subyek melakukan pekerjaan tersebut
Contoh:

Tabel berikut akan memberikan contoh – contoh sufiks {-ah}
yang dilekatkan dibelakang kata sifat dan atau kata kerja

IV. Penutup
A. Kesimpulan
Sebagai penutup tulisan sederhana ini penulis mengemukakan beberapa simpulan sehunbungan dengan proses pembentukan afiksasi dalam bahasa Dawan Khususnya Dialek Amanuban:
2. Proses pembentukan afikasasi dalam bahasa Dawan hampir sama dengan bahasa Indonesia
3. Banyak temuan yang menunjukan bahwa penambahan afiksasi pada setiap bentuk dasar sangat bervariasi. Kata – kata dalam kelas kata yang sama dapat saja mengalami proses pembentukan afiksasi yang dengan cara yang berbeda walaupun sama fungsinya. Atau sebaliknya, prosesnya sama tetapi fungsinya berbeda
4. Ada pula temuan yang menyerupai infiks tetapi tidak memenuhi criteria infiks yang ada dalam sumber – sumber Linguistik
B. Saran
1. Data yang dipaparkan dalam tulisan ini bukanlah merupakan hasil penelitian yang intensif.
2. Semua yang dipaparkan hanya berdasarkan pengetahuan penulis sebagai penutur asli Uab Meto’ atau bahasa Meto
3. Bila ingin mendapatkan data yang cukup dan valid, seharusnya penulis diberi waktu yang cukup

BIBLIOGRAPHY

Adrian, A, (1986), An Introduction to Language and Communication. Cambrodge University Press
Brown D, (1987), Principles of Language Learning and Teaching, 2ndEdition . Prentice Hall Inc.
Echols J and Sadily H (1975) Kamus Inggris – Indonesia CornellUniversity Press
Hornby A. S. (1974) Oxford advance Dictionary of Current English. Cambridge University Press
Karus M. et al, (1999) Laporan Hasil Penlitian Morfology Bahasa Dawan. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, P dan K. NTT
Nida E, (1976) Morphology, the descriptive Analysis of Words, 2 ndEdition, Michigan University Press
Sanga F (1989) Perbandingan Struktur Bahasa Indonesia dan Bahasa Dawan. Penerbit Undana
Tarigan G. H (1975) Morphology. Penerbit Universitas Indonesia – Jakarta
Wardough R, (1972) Intruduction to Linguistics MC Grap Hill Book Company

artikel asli : http://aukuansoe.blogspot.com

KOMENTAR ANDA

0 komentar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini